Thursday, March 6, 2008

Praha 2: Charles Bridge's Devil & "Jam Bego"


Meninggalkan Hradcany Castle, menuruni anak tangga ke bawah bukit, maka kita akan bertemu daerah Mala Strana yang berisikan dunia dongeng anak-anak. Kalau kita terus berjalan, kita akan sampai pada sebuah jembatan yang tidak pernah sepi dari para turis. Namanya Charles Bridge. Berbeda dengan suasana di Mala Strana yang ceria dan penuh warna, disini suasana Gothic terasa sangat kental dan dominan.





Dengan puluhan patung Gothic yang berjajar di sepanjang sisi kiri dan kanan jembatan, Charles Bridge membentang di atas Sungai Vlatava, menghubungkan Mala Strana dengan Stare Mesto atau Old Town. di kedua ujung jembatan ditandai dengan sebuah menara yang tinggi, yang juga bergaya Gothic. Memang benar apa yang dikatakan orang kalau kota Praha adalah kota legenda dan mitos. Setiap patung di jembatan ini memiliki latar belakang cerita dan mitosnya sendiri. Salah satunya adalah sebuah patung St. John Nepomuk. Para turis sangat percaya bahwa dengan menyentuh patung itu, kita akan kembali lagi ke Praha dan berkah akan menghampiri kita.


.... turis bego?



Charles Bridge sendiri pun memilki ratusan legenda. Salah satunya adalah legenda yang mengatakan bahwa jembatan ini terbuat dari putih telur dan dibangun selama 23 tahun. Dari sebuah buku tentang legenda di Praha yang dibeli oleh teman saya, Irvan, saya tertarik pada sebuah cerita tentang the Charles Bridge's Devil.

Kala itu, Charles Bridge yang sedang dibangun, selama bertahun-tahun tak juga kunjung selesai. Si pembuat jembatan yang merasa putus asa, segera minta bantuan setan untuk menyelesaikannya. Setan pun setuju dengan satu syarat, yaitu siapapun yang pertama kali lewat di atas jembatan yang telah selesai, maka ia akan menjadi milik setan itu.



Demikianlah, setelah jembatan itu selesai dibangun, kebetulan istri si pembuat jembatanlah orang yang pertama kali melewati jembatan itu. Ia, yang sedang hamil tua, berulang kali berjalan-jalan di atas jembatan itu. Keesokan harinya, sang istri meninggal dunia. Si pembuat jembatan pun merasa sedih dan menceburkan dirinya ke dalam Sungai Vlatava.

Suatu malam, penduduk di sekitar sungai melihat seorang bayi terbang melayang di atas jembatan. Tak seorangpun bisa menangkapnya. Bayi itu semakin tinggi melayang, ditelan oleh kegelapan malam. Penduduk disitu percaya bahwa bayi itu telah dibawa malaikat ke surga.

Suasana di Charles Bridge siang itu sangatlah ramai. Ratusan turis ditambah dengan para seniman Ceko yang memamerkan dan menjual karya lukisan, foto, juga perrnik-pernik perhiasan, turut membuat sesaknya jembatan itu. Belum lagi, para seniman yang menggelar kebolehannya bermain musik membuat turis-turis itu berhenti berjalan dan memilih untuk menonton dan memotret para seniman tersebut.

"Jam Pintar atau Jam Bego?"


Melewati Charles Bridge, setelah berjalan berdesakan dengan para turis, kita akan tiba di Stare Mesto atau Old Town. Di pelataran Old Town atau Old Town Square, selain terdapat gedung Old Town Hall, beberapa gereja dan synagogue, juga terdapat sebuah jam 'pintar' yang sangat besar. Namanya Astronomical Clock. Jam dari abad Pertengahan ini bentuknya berbeda dengan jam yang biasa kita lihat sehari-hari.

Ia merupakan jam yang sangat 'complicated', karena sesuai dengan namanya, ia tidak hanya menunjukkan waktu, tapi juga menunjukkan kedudukan bumi, bulan, dan matahari, juga bintang-bintang.

Para turis tampak berkumpul di depan jam ini. Cuaca dingin rupanya tidak mereka hiraukan. Apa yang mereka tunggu? Satu jam sekali, seiring dengan berdentangnya jam, jam pintar ini akan mengeluarkan animasi berupa beberapa boneka dari kayu. Rupanya inilah yang ditunggu para turis itu.

Menurut teman-teman Indonesia di Praha, pemandangan seperti ini akan berlangsung setiap hari. Ibarat 'orang bego', mereka menunggu si 'Jam Bego' berdentang, mereka rela berdiri berjam-jam hanya untuk melihat patung-patung animasi yang keluar dari jam tersebut. Nah, di kalangan masyarakat Indonesia, daerah itu dikenal dengan julukan "JAM BEGO" .


Sunday, February 24, 2008

Praha: Negeri Seribu Dongeng dan Hradcany Castle


Sebagai salah satu negara yang baru saja menjadi anggota Schengen, Ceko memang layak dikunjungi. Selain negerinya yang terkenal cantik, jaraknyapun tidak jauh dari Jerman. Apalagi, ibu kota Ceko, Praha terletak tak jauh dari Dresden, hanya dua jam perjalanan dengan kereta api.

Kota Dresden dan Praha, walaupun bertetangga, boleh dibilang memiliki 'nasib' yang berbeda. Di masa PD II, hampir seluruh bangunan di kota Dresden hancur, sebaliknya Praha - yang langsung menyerah pada Hitler - hanya sedikit mengalami kerusakan. Kini, dengan bangunan asli dari Abad Pertengahan yang dimiliki Praha, maka Praha menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Unesco.


Kereta ala Agatha Christie's "Murder on Orient Express"

Sekitar pukul lima sore di akhir minggu itu, kami tiba di stasiun kereta api yang namanya Holesovice di Praha. Suasana hiruk pikuk di stasiun kereta itu benar-benar mengingatkan saya akan stasiun Gambir di Jakarta. Seperti layaknya kota turis, begitu kami turun dari kereta, beberapa orang langsung menghampiri, menawarkan bermacam brosur hotel, pension (losmen), dan apartemen. Mereka saling berebut mempromosikan tempat bermalam, lengkap dengan 'money changer' dan taxi.

Tempat pertama di Praha yang kami kunjungi malam itu adalah Cafe Slavia Kavkana. Cafe ini, selain terkenal dengan goulashnya (makanan khas Eropa Timur yang mirip sekali dengan semur), juga terkenal sebagai tempat bersejarah. Berdiri sekitar 100 tahun yang lalu, restoran yang terletak di pusat kota, di Praha 1 (Praha terdiri dari 13 zone) ini dulu pernah menjadi tempat berkumpulnya para intelektual seperti Franz Kafka. Sambil minum kopi, para penulis itu berbincang dan berdiskusi, sehingga tidak jarang dari obrolan itu lahir karya-karya mereka yang luar biasa.


Di depan Slavia Kavkana dengan Bapak dan Ibu Dubes RI di Ceko

Di depan Slavia Kavkana terdapat Gedung bermotif Baroque yang merupakan Gedung Teater Nasional. Antrian panjang turis yang akan menonton pertunjukan Czech Opera memenuhi jalan di depan gedung itu.


Ibarat negeri dongeng, malam itu kota Praha bermandikan cahaya lampu. Sungai Vlatava seperti emas berkilauan tertimpa sinar lampu sebuah Castle yang megah di atas bukit di tengah kota. Istana itu sedemikian besarnya sehingga seperti jantung kota yang menerangi dan 'mengawasi' seluruh nadi kehidupan dibawahnya: rumah-rumah, sungai Vlatava, Mala Strana, Stare Mesto, serta Charles Bridge. Kami memutuskan untuk kembali ke Castle itu keesokan harinya...

Prague Castle atau Hradcany Castle, demikian nama Castle itu. Istana ini memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan politik dan agama rakyat Ceko. Sejak abad IX hingga kini, Istana itu terus berfungsi. Pada Abad Pertengahan, ia menjadi kediaman resmi para Raja. Ketika Hitler menaklukkan Ceko, Istana ini beralih fungsi menjadi markas militer para petinggi Nazi. Kini, saat Ceko telah menjadi Republik sendiri, Istana ini pun masih menjalankan fungsinya sebagai kantor Kepresidenan. Selain itu, gereja yang terletak di dalam Istana, St Vitus's Cathedral, terus terbuka untuk melayani kehidupan agama rakyat Ceko.

Meskipun setiap harinya Presiden berkantor di salah satu sudut dalam kompleks Hradcany Castle, namun Istana ini tetap terbuka untuk umum, termasuk bagi siapa saja yang ingin menyaksikan pergantian penjaga gerbang, yang dilakukan setiap jam. Tak heran bila Castle ini tak pernah sepi dari kunjungan turis.

Satu hari rasanya tidak cukup untuk mengelilingi seluruh kompleks Istana yang sangat luas itu. Karena terbatasnya waktu dan juga ditambah dengan udara yang sangat dingin (dinginnya mengingatkan saya akan Wisconsin!), kita hanya sempat melihat-lihat Old Royal Palace, St Vitus's Cathedral, dan Powder Tower. Dingin yang menggigit membuat kita urung melihat-lihat Royal Garden.


Kami mengikuti langkah para turis yang menuruni anak tangga yang menuju ke Mala Strana di kaki bukit. Tanpa disengaja, kami menurui anak tangga yang namanya Old Castle Stairs, yang mengingatkan saya akan dunia dongeng Cinderella. Jalanan batu bata berwarna kuning yang menurun dan berkelok, dengan pemandangan taman dan sungai Vlatava di bawahnya, dengan warna warni kristal Bohemia dan Swarovski yang dijual di sepanjang jalan. Demikian pula dengan deretan museum dan teater boneka, dari Pinokio hingga Barbie. Marionette dan matruskha (boneka kayu khas Rusia) seakan tidak ada habisnya mengundang decak kagum. Berapa harga tiket masuk museum dan juga harga souvenir-souvenir itu? Jangan tanya deh, sebagai negara turis yang sebentar lagi akan memberlakukan nilai mata uang Euro, kami harus puas hanya dengan 'cuci mata' atau window shopping saja!





Kami terus berjalan di tengah arus turis, hingga tiba di sebuah jembatan yang juga bermotif Gothic. Namanya Charles Bridge. Jembatan inilah yang menghubungkan Mala Strana dengan Stare Mesto.

Sunday, February 3, 2008

Berlin 4: Bunker Hitler


Selain terkenal dengan Tembok Berlinnya, Berlin juga dikenal sebagai kota dimana Hitler pada tahun 1945 mengakhiri hidupnya sendiri di dalam bunker tempat persembunyiannya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Berlin sepuluh tahun yang lalu, saya selalu bertanya - pada teman-teman yang memang tinggal di kota itu - dimana sih sebenarnya lokasi bunker Hitler itu?


Saat itu lebih dari satu jawaban yang saya dapat. Ada yang bilang bahwa sang führer tidak pernah mati bunuh diri, tapi mati sebagai pahlawan di medan perang, ada lagi yang bilang bahwa menjelang akhir hidupnya, terbukti kalau dia tidak pernah mampir ke Berlin. Beberapa teman bilang kalau bunker sang führer terletak di bawah Gedung Parlemen Jerman atau Reichstag. Ada juga yang yakin kalau di atas lahan bunker itu kini sudah berdiri sebuah restoran Cina. Wah, mana yang benar ya? Tapi umumnya, jawaban yang saya terima adalah, "ich weiß nicht!", yang artinya kira-kira barangkali, "emangnya gua pikirin!".

Memang bisa dimaklumi kalau jawaban yang saya terima beragam. Saat itu pemerintah Jerman belum terlalu terbuka seperti sekarang. Konon, pemerintah Jerman khawatir kalau lokasi itu digunakan sebagai pusat pemujaan bagi kaum simpatisan sang Herr H.


Kini, satu dekade kemudian, ketika saya mendapat kesempatan ke kota itu lagi, dan ketika pemerintah Jerman sudah mulai membuka diri, saya mulai mencari informasi lagi tentang letak bunker tua itu. Kebetulan, beberapa teman juga mempunyai minat yang sama dengan saya. Maka, dengan berbekal peta dan informasi mutakhir dari seorang teman - yang justru bukan penduduk Berlin - kami mulai menyusuri jalan, melewati Friedrichstrasse dan tiba di Willemstrasse. Kata teman saya itu, bunker itu terletak di Willemstraße dan sekarang sudah terkubur rapat. Bahkan, di atasnya sudah dijadikan lahan parkir mobil.


Rupanya, tidaklah sulit mencari lokasi bekas bunker misterius itu. Memasuki Willemstraße, persis di ujung jalan, di sebuah pertigaan jalan, kita disambut oleh sebuah papan informasi tentang keberadaan bunker sang Herr Hitler; sebuah informasi yang cukup detil, lengkap dengan denah bunker. Menurut catatan disitu - yang tentunya versi pemerintah Jerman - bunker itu terletak di dalam kompleks gedung Old Chancellory (Gedung Parlemen Lama), yang saat ini telah runtuh dan digantikan oleh sebuah kompleks apartemen yang luas.




Gedung apartemen itu sendiri terletak kira-kira 100 meter dari papan tersebut, berdekatan dengan lahan parkir mobil dan taman tempat anak-anak bermain. Agak jauh ke belakang apartemen, kita akan menemukan sebuah restoran Vietnam, cafe, serta toko souvenir. Di sekitar area tersebut, tampak pula beberapa papan informasi tentang lokasi bunker dan sejarahnya.

Menurut catatan disitu, dulu terdapat dua buah bunker, yaitu Vor Bunker (dibangun tahun 1936) dan Führer Bunker yang dibangun belakangan pada tahun 1943. Bunker yang terakhir ini dibuat lebih dalam dan lebih canggih dari bunker pertama. Letaknya tidak di bawah Old Chancelllory seperti bunker yang pertama, melainkan di bawah halaman gedung itu. Kedua bunker dihubungkan dengan anak tangga.Nah, di bunker yang terakhir inilah, konon, sang führer menghabiskan sisa hidupnya. Berdasarkani informasi yang lumayan detil itulah, kita bisa mereka-reka dimana letak bunker, pintu masuk ke dalamnya, serta dimana kira-kira sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun dibakar.



Lokasi Pintu Masuk Bunker?
Konon sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun ditemukan di sini



Sayang sekali, tidak ada sedikitpun sisa bunker atau gedung Old Chancellory. Akses ke dalam bunker itu pun sudah terkubur rapat. Kami dan para pengunjung lainnya hanya mengandalkan papan-papan informasi versi pemerintah Jerman dan para tour guide saja.

Tanpa papan-papan informasi itu, siapa yang akan menyangka kalau jauh di bawah lahan kompleks apartemen tersebut terdapat tempat persembunyian orang nomor satu di Jerman saat itu? Terdapat juga peristiwa tragis yang telah merubah sejarah dunia? Peristiwa yang tidak saja menyeret sang führer ke alam kubur, tapi juga membawa serta para pengikutnya yang setia serta anak-anak kecil yang tidak berdosa?

Monday, January 21, 2008

Berlin 3: Checkpoint Charlie Yang Malang


Berlin yang kini menjadi ibu kota Jerman, adalah sebuah kota yang unik, yang tidak ada duanya di dunia ini. Dulu, di masa Perang Dingin, ketika dua kekuatan dunia saling bersaing, ketika dua ego, Barat dan Timur, Amerika dan Soviet saling tak mau kalah, Berlin lah yang paling menjadi bulan-bulanannya. Ia menjadi arena ajang tarik menarik di antara keduanya. Suatu 'Perang Dingin' yang harus dibayar mahal, yang mengharuskan Berlin dipisahkan oleh selembar Tembok yang angkuh dan dingin.

Kala itu, Berlin Barat dan Berlin Timur, menjadi dua sisi mata uang yang tak akan pernah saling bertemu. Kehidupan di kedua tempat itu sangatlah berlawanan. Bagian Barat yang 'kapitalis', di mana kebebasan berpendapat dan berbicara menjadi hak utama masyarakatnya, sementara di bagian Timur, yang menganut paham 'sosialis' , hak manusia seakan dilupakan begitu saja. Seorang penduduk di Timur, misalnya, yang kedapatan menyaksikan siaran TV Barat, sudah pasti akan mendapat hukuman penjara. Apalagi bagi mereka yang ingin 'terbang' ke sisi mata uang lain di balik Tembok. Batas hidup dan mati seseorang di sana saat itu sangatlah tipis.


Di antara Tembok Berlin yang bisu dan dingin, di antara dua dunia itu, terdapat sepotong 'celah pintu' yang bisa 'menghubungkan' ke dua sisi mata uang itu. Nama 'pintu' itu ialah Chekpoint Charlie. 'Pintu' ini sebenarnya adalah pos keamanan yang didirikan oleh pihak Amerika untuk kepentingan strategis militer mereka.


Checkpoint Charlie hanyalah satu dari tiga pos yang dibuat oleh Amerika saat itu. Pos yang lain, yang dibangun sebelumnya adalah Checkpoint Alpha dan Checkpoint Bravo.

Checkpoint Charlie di Friedrichstrasse merupakan pos keamanan yang paling terkenal. Di sinilah setiap pejabat, militer, turis, atau siapa saja yang berkepentingan untuk masuk ke Timur maupun sebaliknya akan diperiksa terlebih dahulu untuk mendapatkan 'clearance' dari kedua belah pihak. Di sini pulalah banyak terjadi kisah-kisah yang mengenaskan, ketika warga Timur nekat menerobos pos ini untuk lari ke Berlin Barat dan nasibnya berakhir di ujung peluru tentara Soviet.

Masa kini, setelah Amerika dan Soviet saling 'berbaikan', setelah tak ada lagi yang namanya Perang Dingin, dan setelah Tembok Berlin tidak lagi 'sangar', karena hanya menjadi potongan-potongan kecil souvenir bagi para turis, dan setelah Berlin menjadi ibu kota, Checkpoint Charlie hanyalah menjadi obyek turisme semata.


Di siang yang lumayan terik itu - dengan membayar 1 Euro per orang - kita bisa 'nampang' dengan para 'tentara' penjaga pos, baik dari 'pihak' Soviet, maupun dari 'pihak' Amerika. Entah dari jam berapa mereka berdiri dengan tegapnya disana. Meskipun tampang dan 'prejengan', serta seragam yang mereka kenakan layaknya seperti tentara beneran, tapi mereka pun sangat, sangat komersial. Mereka tidak akan bersedia diajak berfoto, sebelum kita menyodorkan uang koin 1 Euro!


Saya pun merasa sedikit kecewa. Sepuluh tahun yang lalu, ketika kami mampir kesini, masih terdapat lebih kurang 10 meter Tembok Berlin yang penuh dengan coretan-coretan grafiti. Kini, tak ada secuil pun Tembok yang bersejarah itu. Sebagai gantinya, hanya ada satu keterangan pendek di tempat bekas berdirinya Tembok tersebut. Hanya deretan papan kayu di sepanjang jalan, yang berisikan foto-foto hitam putih dan museum kecil di sudut jalan yang akan membawa kita ke masa lalu. Selebihnya? Seperti juga tempat-tempat wisata lain di dunia ini, tempat itu dipenuhi dengan toko-toko aneka souvenir, cafe, serta tak ketinggalan deretan perusahaan penyewaan mobil terkenal, seperti Avis, Hertz dan Enterprise yang seakan berlomba merebut pelanggan.


Sunday, July 1, 2007

Händel Festspiele in Halle


Selama bulan Juni dan Juli ini, kota Halle, yang biasanya adem ayem, kini 'ramai' oleh sebuah acara yang dinamakan "Händel Festspiele" (Händel Festival). Festival yang diadakan di setiap musim summer ini menggelar pertunjukan konser dan opera karya Georg Friedrich Händel, seorang komponis terkenal yang lahir di Halle. Tiada hari tanpa musik orchestra, itulah keadaan di Halle saat ini.


Penduduk kota seakan dimanjakan dengan berbagai pertunjukan musik dan opera, yang tidak hanya digelar di Opern-Haus (gedung opera) saja, tapi juga di pelataran Marktplatz, di halaman Universitas Martin Luther, di halaman Händel-Haus (Museum Händel), juga di Botanischer Garten (Kebun Raya), hingga di Hauptbahnhof (Stasiun KA). Hampir setiap malam, tepat mulai pukul 10.00, penduduk Halle bisa menyaksikan percikan kembang api, yang seakan tiada henti mewarnai seluruh kota Halle. Tak ketinggalan, patung Händel di Marktplatz pun, dihiasi dengan berbagai bunga dan balon warna-warni.




Siapakah G.F. Händel?


Apabila kota Leipzig - yang bertetangga dengan Halle - boleh berbangga karena memiliki komponis terkenal, Johann Sebastian Bach, maka di Halle pun pernah lahir seorang komponis terkemuka, yang namanya Georg Friedrich Händel. Kebetulan, kedua komponis besar ini lahir pada tahun yang sama, yaitu di tahun 1685. Namun, tidak seperti Bach, yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Leipzig, Händel, sejak remaja selalu melanglang buana dan menghabiskan sisa hidupnya di London. Dan seperti juga Leipzig yang memiliki museum Bach, kota Halle pun bisa berbangga hati dengan museum Händel, yang disebut dengan Händel-Haus, karena dulunya memang merupakan rumah kelahiran Händel.


Tidaklah sulit untuk menemukan museum Händel ini, walaupun letaknya di dalam sebuah lorong. Tak jauh dari Marktplatz, di dekat pertigaan jalan, terdapat sebuah lorong panjang, yang di kanan kirinya dipenuhi dengan cafe. Nama gang ini adalah Große Nikolaistraße. Kira-kira tiga ratus meter dari ujung jalan, kita akan menemukan rumah sang komponis yang bercat kuning muda dan bertingkat dua. Di rumah yang kini telah direnovasi inilah, Händel menghabiskan masa kecil dan masa remajanya bersama keluarganya.


Sama seperti rata-rata museum di Jerman, untuk masuk ke museum ini, kita tidak dipungut bayaran alias "free". Kita pun diperbolehkan untuk memotret sepuasnya. Di dalam museum, kita "diarahkan" oleh penjaga museum untuk masuk ke ruangan demi ruangan secara berurutan. Rupanya, tiap ruangan menggambarkan riwayat hidup Händel secara berurutan dari kecil, dewasa, hingga ia meninggal dunia. Di ruangan-ruangan itu, selain berisi riwayat hidup dan karya-karya Händel, dipamerkan juga alat-alat musik kepunyaan Händel, yang ia dapatkan sebagai hadiah, seperti beberapa alat musik yang bentuknya seperti piano, yang namanya 'Harpsichord'.




Di dalam salah satu ruangan ada sebuah 'Harpsichord', hadiah dari keluarga untuk Händel di hari ulang tahunnya yang ke tujuh. Memang, bakat Händel bermain musik sudah kelihatan sejak ia kecil, dan kedua orang tuanya pun mendukung bakat anaknya itu.


Menurut penjaga museum, Händel - yang terkenal dengan karya-karyanya seperti "Messiah", "Water Music", dan "Music for the Royal Fireworks" - sangat dekat dengan kalangan Raja-raja Eropa. Karya-karyanya pun sangat disukai oleh kalangan elit tersebut. Bahkan, konon, karya-karyanya sempat mengilhami beberapa komponis terkenal di jaman berikutnya, seperti Mozart dan Beethoven.

Berbeda dengan perjalanan hidup Mozart, yang penuh liku-liku dan tragedi, Händel di masa muda memiliki kehidupan yang boleh dikatakan 'lurus-lurus' saja. Kalangan 'atas' seperti Raja Inggris, King George II sangat mengagumi dirinya dan menghujaninya dengan berbagai hadiah dan kemewahan.

Berbeda juga dengan Bach yang dalam hidupnya menikah dua kali dan memiliki 20 orang anak, Händel, sepanjang hidupnya, rupanya betah 'menjomblo' atau hidup bujangan. Namun, seperti juga layaknya para selebritis yang sering terkena gosip, Händel pun pernah diisukan memiliki hubungan khusus dengan seorang puteri Raja dari Inggris, namanya Queen Anne.


Menjelang akhir hayatnya, Händel - yang akhirnya memilih untuk menetap di London - mengalami kebutaan pada kedua matanya. Ketika ia meninggal dunia di London, pada tahun 1759, seluruh kota kota London memperlakuannya seperti layaknya seorang Raja yang wafat. Ia disemayamkan di Westminster Abbey. Kini, bekas rumah tinggalnya di London dijadikan sebuah museum untuk menghormatinya.






Bachfest Leipzig:

Seakan tak mau kalah dengan Halle, kota Leipzig baru-baru ini pun diramaikan dengan "Bachfest" (Festival Bach), yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 17 Juni. Sama dengan di Halle, dalam Festival ini pun ditampilkan karya-karya J.S. Bach, seperti "Brandenburg Concerto" dan lainnya. Spanduk "Bachfest" pun tampak berkibar dimana-mana. Kegiatan pergelaran konser Bach sendiri dipusatkan di Thomaskirche, sebuah gereja yang terletak persis di depan museum Bach. Gereja Thomaskirche mendapat kehormatan ini, karena di gereja inilah Bach banyak memainkan karya-karyanya.

Para komponis seperti Händel (yang mengalami kebutaan), dan Mozart (yang jatuh miskin menjelang akhir hidupnya), atau Beethoven (yang memiliki cacat pendengaran, sehingga nyaris tuli) adalah juga manusia biasa, yang kadang kala memiliki cacat fisik dan harus menghadapi kerasnya kehidupan. Namun hal itu tidak menghambat mereka untuk terus bertekad mengembangkan bakat dan karyanya, sehingga nama dan karya-karya mereka akan terus diingat sepanjang masa...



"J.S. Bach dalam kacamata anak-anak"