
Selama bulan Juni dan Juli ini, kota Halle, yang biasanya adem ayem, kini 'ramai' oleh sebuah acara yang dinamakan "Händel Festspiele" (Händel Festival). Festival yang diadakan di setiap musim summer ini menggelar pertunjukan konser dan opera karya Georg Friedrich Händel, seorang komponis terkenal yang lahir di Halle. Tiada hari tanpa musik orchestra, itulah keadaan di Halle saat ini.

Penduduk kota seakan dimanjakan dengan berbagai pertunjukan musik dan opera, yang tidak hanya digelar di Opern-Haus (gedung opera) saja, tapi juga di pelataran Marktplatz, di halaman Universitas Martin Luther, di halaman Händel-Haus (Museum Händel), juga di Botanischer Garten (Kebun Raya), hingga di Hauptbahnhof (Stasiun KA). Hampir setiap malam, tepat mulai pukul 10.00, penduduk Halle bisa menyaksikan percikan kembang api, yang seakan tiada henti mewarnai seluruh kota Halle. Tak ketinggalan, patung Händel di Marktplatz pun, dihiasi dengan berbagai bunga dan balon warna-warni.
Siapakah G.F. Händel?

Apabila kota Leipzig - yang bertetangga dengan Halle - boleh berbangga karena memiliki komponis terkenal, Johann Sebastian Bach, maka di Halle pun pernah lahir seorang komponis terkemuka, yang namanya Georg Friedrich Händel. Kebetulan, kedua komponis besar ini lahir pada tahun yang sama, yaitu di tahun 1685. Namun, tidak seperti Bach, yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Leipzig, Händel, sejak remaja selalu melanglang buana dan menghabiskan sisa hidupnya di London. Dan seperti juga Leipzig yang memiliki museum Bach, kota Halle pun bisa berbangga hati dengan museum Händel, yang disebut dengan Händel-Haus, karena dulunya memang merupakan rumah kelahiran Händel.
Tidaklah sulit untuk menemukan museum Händel ini, walaupun letaknya di dalam sebuah lorong. Tak jauh dari Marktplatz, di dekat pertigaan jalan, terdapat sebuah lorong panjang, yang di kanan kirinya dipenuhi dengan cafe. Nama gang ini adalah Große Nikolaistraße. Kira-kira tiga ratus meter dari ujung jalan, kita akan menemukan rumah sang komponis yang bercat kuning muda dan bertingkat dua. Di rumah yang kini telah direnovasi inilah, Händel menghabiskan masa kecil dan masa remajanya bersama keluarganya.

Sama seperti rata-rata museum di Jerman, untuk masuk ke museum ini, kita tidak dipungut bayaran alias "free". Kita pun diperbolehkan untuk memotret sepuasnya. Di dalam museum, kita "diarahkan" oleh penjaga museum untuk masuk ke ruangan demi ruangan secara berurutan. Rupanya, tiap ruangan menggambarkan riwayat hidup Händel secara berurutan dari kecil, dewasa, hingga ia meninggal dunia. Di ruangan-ruangan itu, selain berisi riwayat hidup dan karya-karya Händel, dipamerkan juga alat-alat musik kepunyaan Händel, yang ia dapatkan sebagai hadiah, seperti beberapa alat musik yang bentuknya seperti piano, yang namanya 'Harpsichord'.

Di dalam salah satu ruangan ada sebuah 'Harpsichord', hadiah dari keluarga untuk Händel di hari ulang tahunnya yang ke tujuh. Memang, bakat Händel bermain musik sudah kelihatan sejak ia kecil, dan kedua orang tuanya pun mendukung bakat anaknya itu.

Menurut penjaga museum, Händel - yang terkenal dengan karya-karyanya seperti "Messiah", "Water Music", dan "Music for the Royal Fireworks" - sangat dekat dengan kalangan Raja-raja Eropa. Karya-karyanya pun sangat disukai oleh kalangan elit tersebut. Bahkan, konon, karya-karyanya sempat mengilhami beberapa komponis terkenal di jaman berikutnya, seperti Mozart dan Beethoven.
Berbeda dengan perjalanan hidup Mozart, yang penuh liku-liku dan tragedi, Händel di masa muda memiliki kehidupan yang boleh dikatakan 'lurus-lurus' saja. Kalangan 'atas' seperti Raja Inggris, King George II sangat mengagumi dirinya dan menghujaninya dengan berbagai hadiah dan kemewahan.
Berbeda juga dengan Bach yang dalam hidupnya menikah dua kali dan memiliki 20 orang anak, Händel, sepanjang hidupnya, rupanya betah 'menjomblo' atau hidup bujangan. Namun, seperti juga layaknya para selebritis yang sering terkena gosip, Händel pun pernah diisukan memiliki hubungan khusus dengan seorang puteri Raja dari Inggris, namanya Queen Anne.

Menjelang akhir hayatnya, Händel - yang akhirnya memilih untuk menetap di London - mengalami kebutaan pada kedua matanya. Ketika ia meninggal dunia di London, pada tahun 1759, seluruh kota kota London memperlakuannya seperti layaknya seorang Raja yang wafat. Ia disemayamkan di Westminster Abbey. Kini, bekas rumah tinggalnya di London dijadikan sebuah museum untuk menghormatinya.
Bachfest Leipzig:
Seakan tak mau kalah dengan Halle, kota Leipzig baru-baru ini pun diramaikan dengan "Bachfest" (Festival Bach), yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 17 Juni. Sama dengan di Halle, dalam Festival ini pun ditampilkan karya-karya J.S. Bach, seperti "Brandenburg Concerto" dan lainnya. Spanduk "Bachfest" pun tampak berkibar dimana-mana. Kegiatan pergelaran konser Bach sendiri dipusatkan di Thomaskirche, sebuah gereja yang terletak persis di depan museum Bach. Gereja Thomaskirche mendapat kehormatan ini, karena di gereja inilah Bach banyak memainkan karya-karyanya.
Para komponis seperti Händel (yang mengalami kebutaan), dan Mozart (yang jatuh miskin menjelang akhir hidupnya), atau Beethoven (yang memiliki cacat pendengaran, sehingga nyaris tuli) adalah juga manusia biasa, yang kadang kala memiliki cacat fisik dan harus menghadapi kerasnya kehidupan. Namun hal itu tidak menghambat mereka untuk terus bertekad mengembangkan bakat dan karyanya, sehingga nama dan karya-karya mereka akan terus diingat sepanjang masa...

























