Sunday, July 1, 2007

Händel Festspiele in Halle


Selama bulan Juni dan Juli ini, kota Halle, yang biasanya adem ayem, kini 'ramai' oleh sebuah acara yang dinamakan "Händel Festspiele" (Händel Festival). Festival yang diadakan di setiap musim summer ini menggelar pertunjukan konser dan opera karya Georg Friedrich Händel, seorang komponis terkenal yang lahir di Halle. Tiada hari tanpa musik orchestra, itulah keadaan di Halle saat ini.


Penduduk kota seakan dimanjakan dengan berbagai pertunjukan musik dan opera, yang tidak hanya digelar di Opern-Haus (gedung opera) saja, tapi juga di pelataran Marktplatz, di halaman Universitas Martin Luther, di halaman Händel-Haus (Museum Händel), juga di Botanischer Garten (Kebun Raya), hingga di Hauptbahnhof (Stasiun KA). Hampir setiap malam, tepat mulai pukul 10.00, penduduk Halle bisa menyaksikan percikan kembang api, yang seakan tiada henti mewarnai seluruh kota Halle. Tak ketinggalan, patung Händel di Marktplatz pun, dihiasi dengan berbagai bunga dan balon warna-warni.




Siapakah G.F. Händel?


Apabila kota Leipzig - yang bertetangga dengan Halle - boleh berbangga karena memiliki komponis terkenal, Johann Sebastian Bach, maka di Halle pun pernah lahir seorang komponis terkemuka, yang namanya Georg Friedrich Händel. Kebetulan, kedua komponis besar ini lahir pada tahun yang sama, yaitu di tahun 1685. Namun, tidak seperti Bach, yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Leipzig, Händel, sejak remaja selalu melanglang buana dan menghabiskan sisa hidupnya di London. Dan seperti juga Leipzig yang memiliki museum Bach, kota Halle pun bisa berbangga hati dengan museum Händel, yang disebut dengan Händel-Haus, karena dulunya memang merupakan rumah kelahiran Händel.


Tidaklah sulit untuk menemukan museum Händel ini, walaupun letaknya di dalam sebuah lorong. Tak jauh dari Marktplatz, di dekat pertigaan jalan, terdapat sebuah lorong panjang, yang di kanan kirinya dipenuhi dengan cafe. Nama gang ini adalah Große Nikolaistraße. Kira-kira tiga ratus meter dari ujung jalan, kita akan menemukan rumah sang komponis yang bercat kuning muda dan bertingkat dua. Di rumah yang kini telah direnovasi inilah, Händel menghabiskan masa kecil dan masa remajanya bersama keluarganya.


Sama seperti rata-rata museum di Jerman, untuk masuk ke museum ini, kita tidak dipungut bayaran alias "free". Kita pun diperbolehkan untuk memotret sepuasnya. Di dalam museum, kita "diarahkan" oleh penjaga museum untuk masuk ke ruangan demi ruangan secara berurutan. Rupanya, tiap ruangan menggambarkan riwayat hidup Händel secara berurutan dari kecil, dewasa, hingga ia meninggal dunia. Di ruangan-ruangan itu, selain berisi riwayat hidup dan karya-karya Händel, dipamerkan juga alat-alat musik kepunyaan Händel, yang ia dapatkan sebagai hadiah, seperti beberapa alat musik yang bentuknya seperti piano, yang namanya 'Harpsichord'.




Di dalam salah satu ruangan ada sebuah 'Harpsichord', hadiah dari keluarga untuk Händel di hari ulang tahunnya yang ke tujuh. Memang, bakat Händel bermain musik sudah kelihatan sejak ia kecil, dan kedua orang tuanya pun mendukung bakat anaknya itu.


Menurut penjaga museum, Händel - yang terkenal dengan karya-karyanya seperti "Messiah", "Water Music", dan "Music for the Royal Fireworks" - sangat dekat dengan kalangan Raja-raja Eropa. Karya-karyanya pun sangat disukai oleh kalangan elit tersebut. Bahkan, konon, karya-karyanya sempat mengilhami beberapa komponis terkenal di jaman berikutnya, seperti Mozart dan Beethoven.

Berbeda dengan perjalanan hidup Mozart, yang penuh liku-liku dan tragedi, Händel di masa muda memiliki kehidupan yang boleh dikatakan 'lurus-lurus' saja. Kalangan 'atas' seperti Raja Inggris, King George II sangat mengagumi dirinya dan menghujaninya dengan berbagai hadiah dan kemewahan.

Berbeda juga dengan Bach yang dalam hidupnya menikah dua kali dan memiliki 20 orang anak, Händel, sepanjang hidupnya, rupanya betah 'menjomblo' atau hidup bujangan. Namun, seperti juga layaknya para selebritis yang sering terkena gosip, Händel pun pernah diisukan memiliki hubungan khusus dengan seorang puteri Raja dari Inggris, namanya Queen Anne.


Menjelang akhir hayatnya, Händel - yang akhirnya memilih untuk menetap di London - mengalami kebutaan pada kedua matanya. Ketika ia meninggal dunia di London, pada tahun 1759, seluruh kota kota London memperlakuannya seperti layaknya seorang Raja yang wafat. Ia disemayamkan di Westminster Abbey. Kini, bekas rumah tinggalnya di London dijadikan sebuah museum untuk menghormatinya.






Bachfest Leipzig:

Seakan tak mau kalah dengan Halle, kota Leipzig baru-baru ini pun diramaikan dengan "Bachfest" (Festival Bach), yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 17 Juni. Sama dengan di Halle, dalam Festival ini pun ditampilkan karya-karya J.S. Bach, seperti "Brandenburg Concerto" dan lainnya. Spanduk "Bachfest" pun tampak berkibar dimana-mana. Kegiatan pergelaran konser Bach sendiri dipusatkan di Thomaskirche, sebuah gereja yang terletak persis di depan museum Bach. Gereja Thomaskirche mendapat kehormatan ini, karena di gereja inilah Bach banyak memainkan karya-karyanya.

Para komponis seperti Händel (yang mengalami kebutaan), dan Mozart (yang jatuh miskin menjelang akhir hidupnya), atau Beethoven (yang memiliki cacat pendengaran, sehingga nyaris tuli) adalah juga manusia biasa, yang kadang kala memiliki cacat fisik dan harus menghadapi kerasnya kehidupan. Namun hal itu tidak menghambat mereka untuk terus bertekad mengembangkan bakat dan karyanya, sehingga nama dan karya-karya mereka akan terus diingat sepanjang masa...



"J.S. Bach dalam kacamata anak-anak"


Sunday, June 3, 2007

Holland 2: Amsterdam, "Kota Kembang" nan "Genit"




Replika Kapal VOC


Amsterdam, ibukota Belanda, yang sekaligus merupakan kota pelabuhan, terletak tak jauh dari kota Utrecht. Hanya diperlukan waktu kira-kira 30 menit naik KA. Karena Amsterdam adalah kota yang lumayan besar dan memiliki banyak sekali kanal, maka untuk lebih mengenal seluk beluk kota ini, memang sebaiknya kita naik kapal yang banyak berjejer di tepi kanal. Dengan mengeluarkan kocek paling tidak 4 Euro per orang, maka selama satu jam penuh, sang 'Kapten Kapal', dengan sabar dan telaten, akan menerangkan seluk beluk dan sejarah kota Amsterdam kepada para penumpang, dalam empat bahasa sekaligus: Belanda, Jerman, Inggris, dan Perancis.



Di akhir Minggu itu, kebetulan kami dijemput di setasiun KA oleh seorang teman, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengantar dan sekaligus menjadi 'tour guide' gratis bagi kami. Dalam 'pengembaraan' satu hari penuh itu, kami menyempatkan diri mampir ke sebuah pasar kembang, yang terletak persis di tepi sebuah kanal.


Tidak hanya bunga Tulip yang menjadi primadona di pasar kembang ala Londo ini. Banyak juga tanaman khas Belanda lainnya, seperti tanaman Cactus yang tidak hanya berwarna hijau, Dahlia yang berwarna hitam pekat, serta Mawar berbagai warna, dari yang mungil sampai yang 'gede banget'. Di antara deretan bunga-bunga indah nan warni-warni, serta harum semerbak, mata saya tiba-tiba tertuju pada satu jenis tanaman "terlarang", yang namanya canabis atau lebih dikenal sebagai daun ganja! Di negeri ini, entah kenapa, ganja memang dijual secara bebas.


Siang itu, kios-kios bunga di sepanjang tepi kanal tampak ramai dikunjungi para turis dari manca negara. Mereka tidak saja banyak tanya ini itu pada sang penjual, tapi juga memborong berbagai biji-bijian atau bibit bunga yang sudah dikemas secara cantik dan menarik dalam berbagai kantong kertas atau di dalam souvenir sepatu 'terompah' kayu yang mungil. Para pedagang bunga pun, dengan ramah, tidak segan-segan melayani pelanggan dalam bahasa Inggris (paling tidak kalau dibandingkan dengan para pedagang di Jerman yang pelit senyum dan ogah-ogahan kalau diajak ngomong bahasa Inggris).

Tepat menjelang tengah hari, kami meninggalkan pasar kembang itu dan bergegas mengikuti langkah sang 'tour guide' yang beranjak menuju ke "pasar kembang" yang lain, yang lebih 'seru' dan heboh. Setelah berjalan kaki kira-kira 20 menit menyusuri China Town dan lorong-lorong sempit yang menawarkan berbagai "coffeeshop" (istilah di Belanda untuk 'ngopi' sambil 'ngeganja'), kami akhirnya tiba di sebuah distrik yang tak pernah sepi: baik dari turis-turis yang 'curious', tapi juga selalu ramai dikunjungi para 'hidung belang' yang mencari selembar mimpi indah, tak peduli siang ataupun malam hari!



Gereja tua di tengah Red Light District


Di sudut kota yang namanya "Red Light District" (RLD) inilah - yang lagi-lagi terletak di sepanjang tepi sebuah kanal - tampak di kanan dan kiri jalan, berjejer klub-klub malam, toko-toko 'saru', museum erotik, serta bangunan-bangunan yang disekat-sekat menjadi beberapa 'bilik-bilik' kecil yang berjendela dan berpintu kaca. Dari balik keremangan bilik terlihat "kembang - kembang" geulis, berwajah bule dan berhidung 'bangir', dalam balutan kostum ala Victoria Secret, sedang menanti sang kumbang yang ber 'hidung belang' datang menghampiri.



Sementara itu, para peminat atau pelanggan atau apapun namanya - dan juga para turis yang penasaran - dengan leluasa bisa ber "window shopping" atau melongok ke jendela-jendela kaca itu, sebelum memutuskan untuk bertransaksi lebih lanjut.


Siang itu rupanya sang matahari sedang 'lucu-lucunya' memancarkan sinarnya dan membuat 'gerah' para primadona yang sejak tadi berada dalam bilik-bilik mereka. Beberapa dari mereka membuka pintu kaca lebar-lebar, membiarkan angin berhembus masuk. Bahkan, banyak juga yang lebih memilih untuk keluar dari bilik dan mejeng di pinggir jalan. Dengan rokok di jari, "kembang-kembang" Londo itu tampak asyik 'ngerumpi', tanpa memperdulikan sekitar. Tapi, jangan coba-coba berani memotret mereka secara terang-terangan, bisa-bisa selop hak tinggi yang mereka kenakan akan melayang ke arah kita!

Di salah satu lorong di distrik ini terdapat juga bilik-bilik milik "Kembang-kembang AC/DC" alias 'waya-waya' alias waria, yang kali ini lebih didominasi oleh tampang-tampang Asia. Sekilas, memang mereka tak kalah ayu dengan "kembang-kembang asli", apalagi kostum yang mereka kenakan pun tak kalah 'heboh' dengan mereka yang sedang mejeng di pinggir kanal tadi. Untunglah, di siang bolong itu, mereka tidak ikut-ikutan cari angin dan mejeng di luar. Mereka tetap setia berada di dalam bilik-bilik mereka. Dengan gincu yang tebal dan pakaian penutup tubuh ala kadarnya, mereka terus mengumbar senyum genitnya sepanjang hari kepada siapapun yang lewat...



XXX Bukan simbol RLD, tapi adalah lambang kota Amsterdam yang memuat tiga pesan moral: Compassion, Resolution, Heroism


Wednesday, May 9, 2007

Dholan ke Holland 1: Bahasa oh Bahasa....

Teman saya, seorang peneliti asal Belanda, suatu hari bercerita kalau dia punya pengalaman lucu di tanah air kita tercinta. Saat itu ia ingin membeli tirai jendela (gordijn). Ia tidak tahu padanan kata yang pas untuk 'gordijn' dalam bahasa Indonesia. Jadi, kepada pelayan toko, dia memakai bahasa isyarat dan sedikit bahasa tarzan untuk menggambarkan yang ia maksudkan. Tiba-tiba si mbak pelayan toko nyeletuk, " oh maksudnya mau nyari gordijn ya, kalau dari tadi bilang, saya sih ngerti". Teman saya itu pun bengong, lalu segera mengangguk. Dia bilang, "wah udah capek-capek dari tadi saya nerangin apa itu gordijn, taunya di Indonesia dikenal juga kata itu". Karena saya tertawa mendengar cerita itu, teman saya itu pun langsung protes, dia bilang, "eh jangan ketawa dulu ya, coba deh kamu ke negara saya, pasti gantian kamu yang bengong".



Nah, minggu lalu, kami musti pergi ke Belanda karena ada suatu urusan kantor dan kebetulan kita pergi bareng dengan teman saya itu. Kami pergi naik kereta api (orang Jawa bilang spur) super cepat (kecepatan rata-ratanya 200km perjam). Tujuh jam kemudian, tibalah kami di kota yang namanya Utrecht, di Belanda.

Memang benar apa yang dikatakan teman saya itu. Begitu 'nyampe' di stasiun KA Utrecht, saya lihat banyak sekali tulisan dan kata-kata yang mirip dengan bahasa Indonesia, meskipun artinya tidak selalu sama. Misalnya, kata 'spoor', kalau di Utrecht artinya bukan kereta api, tapi rel kereta api. Sedangkan 'fiets' (artinya sepeda), kalau di Jawa menjadi 'pit' atau 'ngepit' dan 'pit-pitan' kalau maksudnya naik sepeda atau 'nyepeda'.


Fietscafe alias Cafe pit-pitan, minum bir untuk tenaga nge-gowes



Berhubung hari sudah siang dan karena perut saya pun sudah memberi tanda kalau minta diisi nasi, maka saya pun mulai tengok kanan kiri mencari apa yang kira-kira bisa diterima oleh perut dan murah harganya. Lalu, saya melihat banyak bule 'Londo' yang lagi ngantri di depan semacam laci-laci berisi makanan. Untuk membeli makanan di laci itu, mereka tinggal memasukkan uang koin 1 Euro disitu, lalu tinggal membuka salah satu laci tersebut. Saya lihat, nama makanan di dalam laci itu sama dengan makanan yang kita kenal, seperti "nasi", "bakmi", "sate", dan "kroket". Tapi di sini, yang dinamakan "nasi" dan "bakmi" jangan dibayangkan sama dengan mie goreng atau nasi bungkus atau pun nasi rames seperti yang biasa dijual di stasiun kereta api di Jawa. Nasi dan bakmi ala 'Londo' berupa sejenis kroket yang diisi nasi putih atau mie goreng. Sedangkan kroket sendiri diisi dengan daging. Rasanya sih - menurut lidah saya yang orang Jawa ini - cukup lumayan. Pedas dan gurih.


Setelah perut kenyang karena si 'nasi' itu tadi, kami pun keluar dari stasiun KA dan jalan kaki menuju hotel tempat kami menginap. Di sepanjang jalan di city centre (downtown), banyak sekali 'Toko-toko'. Karena penasaran dengan apa isi toko itu, kami pun lalu masuk ke dalam salah satu Toko, yang namanya 'Toko Centraal'. Rupanya yang dinamakan 'toko' di sini khusus menjual berbagai bumbu dari Asia, termasuk bumbu dan makanan khas Indonesia. Kebanyakan dari bumbu itu tidak diimpor dari Indonesia, tapi diproduksi sendiri oleh Belanda. Disitu, saya lihat ada wajik, rujak buah, emping pedas, dan 'Indonesisch spekoek'. Hebat juga nih kolonial Belanda. Sambil menyelam, minum air. Sambil menjajah, mereka juga mengangkut makanan kita.



Setelah puas melihat-lihat isi toko itu, kami pun melanjutkan acara jalan kaki kami. Tak jauh dari penginapan kami, teman saya yang orang Belanda itu menunjuk nama-nama jalan yang kami lalui. Sambil ketawa-ketiwi, dia berkomentar, "I don't know whether you will be proud of this or not". Saya pun mulai membaca satu persatu nama-nama jalan disitu: 'Balistraat', 'Lombokstraat', 'Sumatrastraat', 'Borneostraat', serta 'Javastraat'. Namun, memang benar apa yang dikatakan teman saya itu. Saya tidak merasa bangga dan bahkan menjadi 'sebal', ketika di antara jalan-jalan itu, membentang jalan besar dan jalan utama, yang namanya 'J.P. Coen Straat'!




Yah, apa boleh buat. Namanya juga mantan negara penjajah. J.P. Coen, mungkin bagi para 'Londo' itu menjadi seorang tokoh pahlawan nasional, sehingga namanya pun perlu diabadikan menjadi nama jalan. Tapi, bagi kita sendiri, orang Indonesia, 'tokoh' itu akan selalu mengingatkan kita akan riwayat kerja paksa di tanah Jawa!


Sekali ini, gantian teman saya yang cengar-cengir melihat saya bengong...


Kata Asmuni Srimulat ke Jujuk, "Kamu dilamar sama postkantoooor, mau ndak?..."


Sunday, April 29, 2007

Berlin 2: Brandenburger Tor & Amerika



Kira-kira empat blok dari Berlin Hauptbahnhof (stasiun kereta api), dan tak jauh dari memorial korban STASI, ribuan pelancong di Berlin selalu berkumpul di depan gerbang besar. Namanya Brandenburger Tor (Brandenburg Gate), didirikan abad 18. Monumen ini menjulang di antara Pariser Platz dan Platz der 18 Marz. Dengan tinggi kurang lebih 26 meter dan ditopang oleh enam pilar besar, di puncak monumen terdapat patung sang Dewa Kemenangan yang sedang mengendarai kereta jaman baheula, sering disebut Quadriga.

Apa lagi yang menarik dari monumen ini? Seperti juga bangunan kuno lainnya di Jerman, monumen ini menjadi saksi perjalanan bangsa Jerman yang panjang. Rupanya, ia menjadi simbol di tiap jaman. Saat Napoleon berkuasa, ia menjadi simbol kemenangan bagi sang Kaisar itu. Sedangkan di jaman Nazi, Hitler pun tak mau kalah menggunakan Gate ini sebagai simbol kekuasaan The Third Reich. Apa yang terjadi dengan monumen ini pada saat rejim sosialis Jerman Timur masih berkuasa?


Saat Berlin terbelah menjadi dua (1961-1989), Branderburger Tor 'kebetulan' terletak di sisi bagian Berlin Timur dan 'kebetulan' pula persis bersebelahan dengan Tembok Berlin. Akibatnya, separuh dari pilar-pilar Monumen ini tertutup oleh Tembok Berlin dan penduduk Berlin Barat hanya bisa menikmati patung Quadriga dan bagian atas pilar saja.

Di tahun 1963, dua tahun setelah Tembok Berlin dibangun, Presiden John F. Kennedy mengucapkan pidatonya yang terkenal itu, "Ich bin ein Berliner", di depan Brandenburger Tor. Monumen ini ternyata memikat beberapa Presiden Amerika lain untuk menyuarakan kritik terhadap isolasi Berlin Timur. Selain Kennedy, Ronald Reagan dan Bill Clinton pernah juga mampir ke situ. Bahkan, Ronald Reagan, mungkin juga meniru Kennedy, mengucapkan pidatonya, "Tear Down This Wall" (1987), dua tahun sebelum Tembok Berlin dihancurkan. Dengan runtuhnya Tembok Berlin, maka monumen ini pun dijadikan simbol perdamaian.

Bagaimana dengan suasana di Pariser Platz saat ini? Sempit dan sesak! Turis dari manca negara memenuhi pelataran ini. Kawasan ini tak ubahnya seperti daerah turis lainnya, siapa pun saja bisa mencari peruntungan di sini.


Saat kami sampai di depan Brandenburger Tor, seorang bapak tua pengamen jalanan sedang memainkan boneka kayunya tanpa merasa terganggu oleh grup pengamen dari Amerika Selatan di sebelahnya.


Sementara itu, dengan membayar 1 Euro per orang, kita bisa berfoto ria dengan seorang "tentara PD II", yang dari tadi pagi siap berpanas-panas melayani para turis yang iseng atau ingin bernostalgia. Di dekatnya, tak mau kalah, seorang "tentara Jerman Timur lengkap dengan atribut dan benderanya" menunggu diajak mejeng. Suasana sesak dan komersil ini dilengkapi pula dengan deretan "becak ala Berlin" yang terus menerus "stand by" buat mengantar para turis jalan-jalan.


Boneka beruang lambang Berlin pun pengen diajak berfoto. Semua bisa kita dapatkan di sini, asalkan ada uang koin 1 Euro!


Rupanya, tidak hanya para presiden Amerika yang pernah mampir ke sini. Starbucks, cafe kesohor ala Amrik - yang siang itu penuh dengan pengunjung - ikut berkiprah juga di sini, letaknya persis besebelahan dengan museum Kennedy. Namun, tidak seperti kedatangan para presiden Amerika yang mendapat banyak simpati, kehadiran Starbucks sampai sekarang menuai kontroversi. Ia dituding 'mengkomersialisasikan' tempat bersejarah!










Teks pidato John F. Kennedy... "Ich bin ein Berliner"...



Di Jerman, ein Berliner adalah ini, bisa dimakan dan enak.. tentunya bukan ini yang dimaksud JFK....


Sunday, April 15, 2007

Berlin I: STASI & Kisah Seorang Ibu dan Anaknya

Tepat sepuluh tahun yang lalu (tahun 1997), kami pernah berkunjung ke ibukota Jerman, Berlin, selama satu minggu. Pada hari Sabtu yang lalu, kami berkesempatan mampir lagi ke Berlin dengan teman-teman, tidak untuk satu minggu, tapi sehari saja. Mumpung cuaca lagi bagus, kita habiskan waktu untuk 'ngukur jalan' alias berjalan melihat-lihat suasana kota, tanpa ada target tujuan tertentu.


Siang itu, ayunan langkah kaki kami terhenti sejenak di depan pagar sebuah taman. Ada sebuah "monumen" yang tidak biasa disitu; sebuah monumen berupa deretan foto laki-laki, perempuan, maupun foto seorang anak kecil. Di bawah foto mereka, ada sedikit keterangan tentang identitas, tahun lahir, dan tahun meninggal mereka. Disitu juga diletakkan bunga-bunga. Siapakah mereka itu?


Dari keterangan yang tertulis disitu (untunglah, ada terjemahannya dalam bahasa Inggris), kita bisa tahu bahwa mereka adalah korban kekejaman polisi rahasia di jaman pemerintahan sosialis Jerman Timur, yang juga dikenal dengan nama State Security Service, atau "Staatssicherheitsdienst" (susah deh bacanya), atau lebih populer disebut STASI.

Dari tulisan disitu pulalah kita bisa tahu sedikit tentang apa itu STASI dan siapa korbannya. Kira-kira satu bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin (1989), penduduk Berlin Timur yang marah menyerbu kantor pusat STASI. Di sana mereka mengambil apa saja yang bisa diangkut, termasuk tumpukan arsip-arsip yang tidak sempat dimusnahkan oleh para kaki tangan STASI.


Dari arsip-arsip inilah terbongkar kejahatan STASI: dari cara yang digunakan untuk mengorek informasi, metode penyiksaan, identitas para informan, hingga identitas penduduk yang selama ini diincar atau yang sempat hilang, atau meninggal secara tidak wajar.

Untuk mengenang korban-korban itu, rupanya dibuatlah semacam memorial yang berupa deretan foto-foto serta sedikit riwayat hidup mereka.

Di antara para korban itu, ada sebuah foto hitam putih besar: foto seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun. Namanya Aristoteles Püchel. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya?

Pada suatu hari di tahun 1969, ketika Aristoteles berusia 3 tahun, sang ibu, Gabriele Püchel berhasil melarikan diri ke Berlin Barat tanpa berhasil membawa serta si Aristoteles. Di hari yang naas itu, yang kebetulan adalah hari ulang tahun sang ibu ke 25, Gabriele hanya sempat melambaikan tangan pada anaknya, yang ketika itu berada dalam gendongan teman karib ibunya.

Setibanya di Berlin Barat, sang ibu tak pernah melupakan anaknya. Ia terus berupaya mencari jalan agar bisa menarik anaknya ke Berlin Barat. Namun upaya itu merupakan sebuah perjuangan yang luar biasa, karena baru hampir 20 tahun kemudian mereka akhirnya bisa bertemu lagi!

Selama kurun waktu hampir 20 tahun itu, tentu banyak hal yang terjadi. STASI berusaha menyembunyikan identitas Aristoteles dengan "memberinya" identitas yang baru. Ia punya orang tua baru dan nama yang baru, Arne. Mereka juga "mencekokinya" dengan paham-paham sosialis ala Jerman Timur.


Sementara itu, di Berlin Barat, sang ibu yang telah kehilangan jejak si anak, dengan gigih mulai mengetuk pintu dunia internasional. Usaha itu rupanya ada hasilnya, karena pemerintah Jerman Timur mulai mendapat tekanan internasional karena kasus ini.

Akhirnya setahun sebelum runtuhnya Tembok Berlin, Aristoteles, yang kini telah menjadi seorang pemuda dan bernama Arne mendapat 'exit permit' dari pemerintah Jerman Timur untuk menemui ibunya di Berlin Barat.

Bagaimana komentar Gabriele ketika bertemu anaknya pertama kali? Konon, ia pernah meragukan kalau si Arne adalah memang anaknya yang hilang dulu. Lain lagi komentar sang anak: "Kini tidak hanya hari ulang tahun yang bisa kita rayakan bersama, tapi juga hari Natal dan Tahun Baru".

Cerita di atas hanyalah sepotong cerita dari sekian juta kisah lainnya yang menimpa penduduk Berlin pada saat hantu STASI masih menyebarkan virus teror, dan pada saat Tembok Berlin masih berdiri dengan pongahnya...

Sunday, April 8, 2007

Frohe Ostern!



Satu minggu menjelang Ostern (Easter), penduduk di Jerman sudah mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan. Biasanya, tidak hanya toko dan mall saja yang sibuk berhias diri, tetapi halaman rumah penduduk pun dihias dengan pohon telur yang berwarna-warni, dan juga jendela rumah mereka dihiasi dengan "Osterhase" (Easter Bunny) dan bunga daffodils, bunga kebanggaan penduduk yang dikenal dengan nama "Osterglocken" atau Easter Bells.


Tiap-tiap daerah di Jerman mempunyai cara yang berbeda-beda dalam merayakan Easter. Di daerah Weimar misalnya, diadakan acara berburu telur bagi anak-anak di halaman rumah pujangga terkenal Goethe. Di Bavaria, selalu diadakan Carnival. Di daerah-daerah lain di bagian Utara masih sering diadakan acara membakar pohon Natal. Acara ini, katanya, sebagai simbol meninggalkan winter dan menyongsong datangnya spring.




Di Halle, pada hari Minggu yang lalu, diadakan semacam 'keriaan'. Marktplatz yang sehari-harinya dipenuhi dengan kegiatan 'Farmer's Market', khusus pada hari itu dipenuhi dengan aneka permainan anak-anak, panggung gembira (dengan permainan orkes yang memainkan lagu-lagunya "jadul", alias jaman grup musik ABBA dan 'Grease'nya Olivia Newton John), serta tak ketinggalan aneka jajanan tradisional seperti cokelat dan sosis.








Di sisi lain di Marktplatz, terdapat kesibukan yang tidak kalah menariknya, yaitu pameran dan penjualan mobil mewah... (apa hubungannya dengan perayaan Ostern ya?).

Meskipun tiap daerah punya acara khas masing-masing, tapi di seluruh Jerman - seperti juga di negara-negara lain - telur warna warni, bunny, serta coklat dan permen tak kan pernah ketinggalan. Mengapa selalu ada telur, bunny, serta permen cokelat?


Menurut cerita, tradisi telur dan kelinci Easter yang kini berlaku di Amerika dan negara lainnya itu pertama kalinya berasal dari Jerman. Tradisi ini berawal dari jaman abad pertengahan, ketika para tuan tanah masih berkuasa dan ketika kaum petani masih menyewa tanah dari mereka.

Menjelang Easter, pada hari yang disebut Maundy Thursday (Holly Thursday), para tuan tanah memungut pembayaran sewa tanah dari para petani. Nah, saat itu, kaum petani ini memiliki persediaan telur yang banyak, karena telur memang tidak boleh dimakan pada masa puasa Lenten sebelum Easter. Jadi, mereka tidak membayarnya dengan uang, melainkan dengan telur dan daging kelinci.

Nah, sejak abad 17 hingga kini, dongeng kalau Easter Bunnylah yang memberi warna dan menyembunyikan telur di Hasengärtle (Bunny Garden) menjadi populer di kalangan anak-anak. Untuk mendapatkan telur warna warni itu mereka musti mencari di semak-semak atau di taman. Di Jerman, kegiatan berburu telur biasanya dipusatkan di Tiergarten (kebun binatang).

Konon, masih ada kepercayaan di Jerman, kalau warna telur yang didapat pertama kali adalah biru, maka ketidakberuntungan akan menyertai. Sebaliknya, warna merah adalah warna favorit, karena kalau berhasil menemukan telur merah pertama kali, maka keberuntungan akan datang selama tiga hari berturut-turut!

Kini, dengan hadirnya industri dan pabrik cokelat, maka tidak hanya telur yang musti dicari anak-anak, tapi juga permen dan cokelat...


Titanic terbuat dari cokelat pun ikut merayakan Ostern...