Downtown: Audi versus kereta kuda
Tujuan kita ialah ke tempat yang namanya Altstadt (Old Town) di tepi Sungai Elbe. Untuk menuju kesana, kita musti melewati downtown yang jauh lebih besar dan lebih ramai daripada di Halle.
Di downtown, di tengah-tengah megahnya shopping mall moderen seperti Saturn dan Galeria, terdapat Farmer's Market. Tak seperti di Halle, selain jualan bahan makanan, ada pedagang yang jualan kain tradisional dari bahan rajutan (knitting) dan sulaman (embroidery). Peminatnya hebat lho... banyak yang datang naik Mercedes, BMW, dan Audi. Tapi di antara mobil-mobil itu, kita juga masih melihat kereta kuda berseliweran di jalan.
Old Town, kotanya para Raja Saxony:
Setelah berjalan kira-kira 1 km, sampailah kita di Old Town. Di sepanjang jalan di Old Town banyak terdapat reruntuhan bangunan kuno yang sedang diperbaiki kembali. Memang, sama seperti Leipzig, kota Dresden pernah mengalami kehancuran hebat di masa PD II. Kini, bangunan-bangunan kuno dan bersejarah itu telah dipugar oleh pemerintah Jerman.
Salah satu bangunan bersejarah yang telah selesai dipugar ialah the "Dresdner Frauenkirche" ("Church of Our Lady") atau biasa disebut "The Dome". Bangunan asli gereja ini didirikan pada abad 18, namum serangan bom Sekutu mengakibatkan gereja ini rata dengan tanah. "The Dome" yang kita lihat sekarang ini ialah hasil pemugaran selama 13 tahun dan selesai dipugar pada tahun 2005. Di depan gereja ini kita lihat antrian panjang orang-orang yang mau masuk gereja.

Tak jauh dari situ, terdapat sebuah kompleks istana, "The Zwinger Palace". Kompleks istana ini besar sekali, rasanya seperti berada dalam kota tersendiri.

Konon, "The Zwinger Palace" didirikan pada abad 18 oleh seorang Raja Saxony bernama Augustus. Raja ini berambisi ingin menyaingi Istana Versailles milik Raja Perancis, Louis XIV.

Oleh karena itu, dibangunlah kompleks istana itu, lengkap dengan taman dan koleksi benda seninya. Sejak itu, istana ini menjadi kediaman bagi Raja-raja Saxony selanjutnya.
Di salah satu sudut di dalam kompleks istana tersebut, terdapat dinding sepanjang 100 meter-an yang dicat kuning keemasan. Di sepanjang dinding itu terlukis deretan gambar raja-raja yang pernah tinggal di Dresden dan pernah memperkaya kota Dresden dengan cita rasa seni yang tinggi.
Kalau kita memperhatikan keindahan istana bergaya Baroque itu, kita tidak akan menyangka bahwa semua bangunan bersejarah ini pernah hancur kena serangan bom Sekutu, bahkan pernah terbengkalai dalam masa pemerintahan Jerman Timur. Untunglah, pemerintah sekarang bersedia "menghidupkan kembali" kekayaan masa lalu ini. Sejarah memang dianggap sangat penting di sini, sehingga pemerintah kota Dresden bersedia menghabiskan dana dan meluangkan waktu untuk membenahi bangunan bersejarah, dan bukannya menggantikannya dengan mall-mall moderen.

1 comment:
-Katanya kemaren ada pesta Uni Eropa ke-50 yang pusatnya di berlin. Sekilas liat di CNN koq rame banget, ada panggung musisi se-eropa.Apa gaungnya sampe ke halle juga ?
Post a Comment