Sunday, April 29, 2007

Berlin 2: Brandenburger Tor & Amerika



Kira-kira empat blok dari Berlin Hauptbahnhof (stasiun kereta api), dan tak jauh dari memorial korban STASI, ribuan pelancong di Berlin selalu berkumpul di depan gerbang besar. Namanya Brandenburger Tor (Brandenburg Gate), didirikan abad 18. Monumen ini menjulang di antara Pariser Platz dan Platz der 18 Marz. Dengan tinggi kurang lebih 26 meter dan ditopang oleh enam pilar besar, di puncak monumen terdapat patung sang Dewa Kemenangan yang sedang mengendarai kereta jaman baheula, sering disebut Quadriga.

Apa lagi yang menarik dari monumen ini? Seperti juga bangunan kuno lainnya di Jerman, monumen ini menjadi saksi perjalanan bangsa Jerman yang panjang. Rupanya, ia menjadi simbol di tiap jaman. Saat Napoleon berkuasa, ia menjadi simbol kemenangan bagi sang Kaisar itu. Sedangkan di jaman Nazi, Hitler pun tak mau kalah menggunakan Gate ini sebagai simbol kekuasaan The Third Reich. Apa yang terjadi dengan monumen ini pada saat rejim sosialis Jerman Timur masih berkuasa?


Saat Berlin terbelah menjadi dua (1961-1989), Branderburger Tor 'kebetulan' terletak di sisi bagian Berlin Timur dan 'kebetulan' pula persis bersebelahan dengan Tembok Berlin. Akibatnya, separuh dari pilar-pilar Monumen ini tertutup oleh Tembok Berlin dan penduduk Berlin Barat hanya bisa menikmati patung Quadriga dan bagian atas pilar saja.

Di tahun 1963, dua tahun setelah Tembok Berlin dibangun, Presiden John F. Kennedy mengucapkan pidatonya yang terkenal itu, "Ich bin ein Berliner", di depan Brandenburger Tor. Monumen ini ternyata memikat beberapa Presiden Amerika lain untuk menyuarakan kritik terhadap isolasi Berlin Timur. Selain Kennedy, Ronald Reagan dan Bill Clinton pernah juga mampir ke situ. Bahkan, Ronald Reagan, mungkin juga meniru Kennedy, mengucapkan pidatonya, "Tear Down This Wall" (1987), dua tahun sebelum Tembok Berlin dihancurkan. Dengan runtuhnya Tembok Berlin, maka monumen ini pun dijadikan simbol perdamaian.

Bagaimana dengan suasana di Pariser Platz saat ini? Sempit dan sesak! Turis dari manca negara memenuhi pelataran ini. Kawasan ini tak ubahnya seperti daerah turis lainnya, siapa pun saja bisa mencari peruntungan di sini.


Saat kami sampai di depan Brandenburger Tor, seorang bapak tua pengamen jalanan sedang memainkan boneka kayunya tanpa merasa terganggu oleh grup pengamen dari Amerika Selatan di sebelahnya.


Sementara itu, dengan membayar 1 Euro per orang, kita bisa berfoto ria dengan seorang "tentara PD II", yang dari tadi pagi siap berpanas-panas melayani para turis yang iseng atau ingin bernostalgia. Di dekatnya, tak mau kalah, seorang "tentara Jerman Timur lengkap dengan atribut dan benderanya" menunggu diajak mejeng. Suasana sesak dan komersil ini dilengkapi pula dengan deretan "becak ala Berlin" yang terus menerus "stand by" buat mengantar para turis jalan-jalan.


Boneka beruang lambang Berlin pun pengen diajak berfoto. Semua bisa kita dapatkan di sini, asalkan ada uang koin 1 Euro!


Rupanya, tidak hanya para presiden Amerika yang pernah mampir ke sini. Starbucks, cafe kesohor ala Amrik - yang siang itu penuh dengan pengunjung - ikut berkiprah juga di sini, letaknya persis besebelahan dengan museum Kennedy. Namun, tidak seperti kedatangan para presiden Amerika yang mendapat banyak simpati, kehadiran Starbucks sampai sekarang menuai kontroversi. Ia dituding 'mengkomersialisasikan' tempat bersejarah!










Teks pidato John F. Kennedy... "Ich bin ein Berliner"...



Di Jerman, ein Berliner adalah ini, bisa dimakan dan enak.. tentunya bukan ini yang dimaksud JFK....


Sunday, April 15, 2007

Berlin I: STASI & Kisah Seorang Ibu dan Anaknya

Tepat sepuluh tahun yang lalu (tahun 1997), kami pernah berkunjung ke ibukota Jerman, Berlin, selama satu minggu. Pada hari Sabtu yang lalu, kami berkesempatan mampir lagi ke Berlin dengan teman-teman, tidak untuk satu minggu, tapi sehari saja. Mumpung cuaca lagi bagus, kita habiskan waktu untuk 'ngukur jalan' alias berjalan melihat-lihat suasana kota, tanpa ada target tujuan tertentu.


Siang itu, ayunan langkah kaki kami terhenti sejenak di depan pagar sebuah taman. Ada sebuah "monumen" yang tidak biasa disitu; sebuah monumen berupa deretan foto laki-laki, perempuan, maupun foto seorang anak kecil. Di bawah foto mereka, ada sedikit keterangan tentang identitas, tahun lahir, dan tahun meninggal mereka. Disitu juga diletakkan bunga-bunga. Siapakah mereka itu?


Dari keterangan yang tertulis disitu (untunglah, ada terjemahannya dalam bahasa Inggris), kita bisa tahu bahwa mereka adalah korban kekejaman polisi rahasia di jaman pemerintahan sosialis Jerman Timur, yang juga dikenal dengan nama State Security Service, atau "Staatssicherheitsdienst" (susah deh bacanya), atau lebih populer disebut STASI.

Dari tulisan disitu pulalah kita bisa tahu sedikit tentang apa itu STASI dan siapa korbannya. Kira-kira satu bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin (1989), penduduk Berlin Timur yang marah menyerbu kantor pusat STASI. Di sana mereka mengambil apa saja yang bisa diangkut, termasuk tumpukan arsip-arsip yang tidak sempat dimusnahkan oleh para kaki tangan STASI.


Dari arsip-arsip inilah terbongkar kejahatan STASI: dari cara yang digunakan untuk mengorek informasi, metode penyiksaan, identitas para informan, hingga identitas penduduk yang selama ini diincar atau yang sempat hilang, atau meninggal secara tidak wajar.

Untuk mengenang korban-korban itu, rupanya dibuatlah semacam memorial yang berupa deretan foto-foto serta sedikit riwayat hidup mereka.

Di antara para korban itu, ada sebuah foto hitam putih besar: foto seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun. Namanya Aristoteles Püchel. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya?

Pada suatu hari di tahun 1969, ketika Aristoteles berusia 3 tahun, sang ibu, Gabriele Püchel berhasil melarikan diri ke Berlin Barat tanpa berhasil membawa serta si Aristoteles. Di hari yang naas itu, yang kebetulan adalah hari ulang tahun sang ibu ke 25, Gabriele hanya sempat melambaikan tangan pada anaknya, yang ketika itu berada dalam gendongan teman karib ibunya.

Setibanya di Berlin Barat, sang ibu tak pernah melupakan anaknya. Ia terus berupaya mencari jalan agar bisa menarik anaknya ke Berlin Barat. Namun upaya itu merupakan sebuah perjuangan yang luar biasa, karena baru hampir 20 tahun kemudian mereka akhirnya bisa bertemu lagi!

Selama kurun waktu hampir 20 tahun itu, tentu banyak hal yang terjadi. STASI berusaha menyembunyikan identitas Aristoteles dengan "memberinya" identitas yang baru. Ia punya orang tua baru dan nama yang baru, Arne. Mereka juga "mencekokinya" dengan paham-paham sosialis ala Jerman Timur.


Sementara itu, di Berlin Barat, sang ibu yang telah kehilangan jejak si anak, dengan gigih mulai mengetuk pintu dunia internasional. Usaha itu rupanya ada hasilnya, karena pemerintah Jerman Timur mulai mendapat tekanan internasional karena kasus ini.

Akhirnya setahun sebelum runtuhnya Tembok Berlin, Aristoteles, yang kini telah menjadi seorang pemuda dan bernama Arne mendapat 'exit permit' dari pemerintah Jerman Timur untuk menemui ibunya di Berlin Barat.

Bagaimana komentar Gabriele ketika bertemu anaknya pertama kali? Konon, ia pernah meragukan kalau si Arne adalah memang anaknya yang hilang dulu. Lain lagi komentar sang anak: "Kini tidak hanya hari ulang tahun yang bisa kita rayakan bersama, tapi juga hari Natal dan Tahun Baru".

Cerita di atas hanyalah sepotong cerita dari sekian juta kisah lainnya yang menimpa penduduk Berlin pada saat hantu STASI masih menyebarkan virus teror, dan pada saat Tembok Berlin masih berdiri dengan pongahnya...

Sunday, April 8, 2007

Frohe Ostern!



Satu minggu menjelang Ostern (Easter), penduduk di Jerman sudah mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan. Biasanya, tidak hanya toko dan mall saja yang sibuk berhias diri, tetapi halaman rumah penduduk pun dihias dengan pohon telur yang berwarna-warni, dan juga jendela rumah mereka dihiasi dengan "Osterhase" (Easter Bunny) dan bunga daffodils, bunga kebanggaan penduduk yang dikenal dengan nama "Osterglocken" atau Easter Bells.


Tiap-tiap daerah di Jerman mempunyai cara yang berbeda-beda dalam merayakan Easter. Di daerah Weimar misalnya, diadakan acara berburu telur bagi anak-anak di halaman rumah pujangga terkenal Goethe. Di Bavaria, selalu diadakan Carnival. Di daerah-daerah lain di bagian Utara masih sering diadakan acara membakar pohon Natal. Acara ini, katanya, sebagai simbol meninggalkan winter dan menyongsong datangnya spring.




Di Halle, pada hari Minggu yang lalu, diadakan semacam 'keriaan'. Marktplatz yang sehari-harinya dipenuhi dengan kegiatan 'Farmer's Market', khusus pada hari itu dipenuhi dengan aneka permainan anak-anak, panggung gembira (dengan permainan orkes yang memainkan lagu-lagunya "jadul", alias jaman grup musik ABBA dan 'Grease'nya Olivia Newton John), serta tak ketinggalan aneka jajanan tradisional seperti cokelat dan sosis.








Di sisi lain di Marktplatz, terdapat kesibukan yang tidak kalah menariknya, yaitu pameran dan penjualan mobil mewah... (apa hubungannya dengan perayaan Ostern ya?).

Meskipun tiap daerah punya acara khas masing-masing, tapi di seluruh Jerman - seperti juga di negara-negara lain - telur warna warni, bunny, serta coklat dan permen tak kan pernah ketinggalan. Mengapa selalu ada telur, bunny, serta permen cokelat?


Menurut cerita, tradisi telur dan kelinci Easter yang kini berlaku di Amerika dan negara lainnya itu pertama kalinya berasal dari Jerman. Tradisi ini berawal dari jaman abad pertengahan, ketika para tuan tanah masih berkuasa dan ketika kaum petani masih menyewa tanah dari mereka.

Menjelang Easter, pada hari yang disebut Maundy Thursday (Holly Thursday), para tuan tanah memungut pembayaran sewa tanah dari para petani. Nah, saat itu, kaum petani ini memiliki persediaan telur yang banyak, karena telur memang tidak boleh dimakan pada masa puasa Lenten sebelum Easter. Jadi, mereka tidak membayarnya dengan uang, melainkan dengan telur dan daging kelinci.

Nah, sejak abad 17 hingga kini, dongeng kalau Easter Bunnylah yang memberi warna dan menyembunyikan telur di Hasengärtle (Bunny Garden) menjadi populer di kalangan anak-anak. Untuk mendapatkan telur warna warni itu mereka musti mencari di semak-semak atau di taman. Di Jerman, kegiatan berburu telur biasanya dipusatkan di Tiergarten (kebun binatang).

Konon, masih ada kepercayaan di Jerman, kalau warna telur yang didapat pertama kali adalah biru, maka ketidakberuntungan akan menyertai. Sebaliknya, warna merah adalah warna favorit, karena kalau berhasil menemukan telur merah pertama kali, maka keberuntungan akan datang selama tiga hari berturut-turut!

Kini, dengan hadirnya industri dan pabrik cokelat, maka tidak hanya telur yang musti dicari anak-anak, tapi juga permen dan cokelat...


Titanic terbuat dari cokelat pun ikut merayakan Ostern...



Sunday, April 1, 2007

Leipziger Buchmesse: Demam Manga & Harry Potter



Orang bijak bilang, kalau ingin tahu cara berpikirnya suatu bangsa, kenalilah dari buku yang mereka baca. Nah, kebetulan tiap tahun di awal spring (der Frühling) selalu diadakan pameran buku (bahasa sininya, Buchmesse). Pameran buku terbesar biasanya diadakan di kota Frankfurt dan Leipzig. Kaya' apa sih book fairnya di sini? Yuk, kita lihat yang dekat-dekat saja yaitu yang diadakan di Leipzig.


Pameran buku kali ini diadakan di 'Exhibition and Convention Hall'nya Leipzig namanya 'Leipziger Messe'. Nggak sampai 20 menit perjalanan naik KA dari Halle, kita sudah sampai di gedung ini. Seperti layaknya sebuah gedung pameran, Leipziger Messe ini megah dan moderen.

Di luar gedung pameran, kita disambut oleh "sebuah" kolam air yang sangat besar. Dari kejauhan, kolam itu tampak seakan-akan seperti "terbelah dua" dan setiap orang bisa berjalan di tengah-tengah kolam yang terbagi dua itu.


Setelah dari dekat, barulah kelihatan bahwa sebenarnya terdapat dua kolam air dan diantara kedua kolam itu dibuat jalan setapak yang lebih rendah dari tinggi permukaan air, sehingga orang yang lewat di jalan setapak itu tampak seperti "ditelan" oleh kolam tersebut.










Ada Halloween Party di Buchmesse?

Di pintu masuk, kita lihat banyak sekali ABG yang datang berkelompok dengan memakai kostum ala Halloween Party nya di Amerika atau mirip di State Street nya Madison. Kebanyakan dari mereka beraksi seperti tokoh dalam komik Manga dan dalam cerita Harry Potter, namun ada juga yang bergaya mirip tokoh Dr. Strauss dan Cinderella lengkap dengan pasangan pangerannya.



Lho, memangnya ada Halloween Party di sini? Ternyata, seperti juga ABG di tempat-tempat lain, para remaja di sini pun rupanya gandrung dengan cerita komik Manga, Sailor Moon dan Harry Potter yang memang populer di mana-mana itu. Nah, jadilah mereka rame-rame datang kesini dengan berpakaian ala tokoh pujaan mereka itu.



Ngapain aja mereka disitu? Ya, selain mondar-mandir dan melihat-lihat pameran itu seperti pengunjung lain, mereka juga 'ngeriung' dan berfoto ria dengan para pengunjung pameran - yang penasaran dan bengong ngeliat kelakuan mereka - seperti saya (mereka seneng banget lho difoto).


Kalau kita masuk ke gedung pameran, kita tidak langsung melihat stand-stand buku di situ, karena pameran bukunya sendiri terletak di lantai dua dan berlangsung di dalam lima hall yang besar. Seluruh lantai bawah dipenuhi oleh bangku-bangku dan meja-meja panjang untuk pengunjung yang pengen ngopi dan jajan. Selain itu ada juga information centre dan stand door prize (hadiah utamanya mobil lho).




Apa aja sih buku yang dipamerkan?


Kita menyempatkan diri untuk melihat-lihat stand buku di lima hall tersebut. Setiap hall memamerkan dan menjual buku-buku dengan kategorinya masing-masing. Misalnya, ada bagian desain grafis, kartun, komik, koleksi buku kuno, buku seni, dan buku audio. Sayangnya 90% dari buku-buku itu berbahasa Jerman semua. Bahkan, novel-novel yang aslinya berbahasa Inggris pun mereka terjemahkan ke dalam bahasa Jerman.

Peserta pamerannya antara lain adalah penerbit dalam dan luar negeri, organisasi-organisasi internasional (seperti Amnesty International) dan universitas dalam negeri. Standnya pun mereka hias sedemikian rupa sehingga terlihat artistik dan nyeni. Di beberapa stand juga diadakan semacam talk show ataupun lecture yang langsung disiarkan di TV, pemutaran film, serta teater boneka.

Kita sempat mampir ke hall yang merupakan stand internasional, siapa tahu ada buku berbahasa Inggris yang murah di situ. Di sini, kira-kira ada 31 stand dari negara-negara Eropa, Amerika, Meksiko, Cina dll yang ikut ambil bagian. Sayang, kita udah keliling nyari stand Indonesia kok nggak ada ya?


Di stand negara Turki tampak terpampang poster besar pengarang Orhan Pamuk yang memenangkan Nobel Prize tahun 2006.



Secara keseluruhan, pameran buku ini cukup bagus dan banyak diminati pengunjung, namun sayangnya selain hampir semua buku berbahasa Jerman, semua buku yang dijual rata-rata harganya sama dengan buku yang dijual di toko buku, jadi tidak ada book sale seperti umumnya Book Fair di Amerika.

Saya juga melihat bahwa pengunjung rata-rata hanya membeli dua atau tiga buku saja, tidak seperti umumnya orang Amerika yang selalu memborong buku kadang sampai lima kantong plastik besar kalau ada Book Fair semacam ini.