Siang itu, ayunan langkah kaki kami terhenti sejenak di depan pagar sebuah taman. Ada sebuah "monumen" yang tidak biasa disitu; sebuah monumen berupa deretan foto laki-laki, perempuan, maupun foto seorang anak kecil. Di bawah foto mereka, ada sedikit keterangan tentang identitas, tahun lahir, dan tahun meninggal mereka. Disitu juga diletakkan bunga-bunga. Siapakah mereka itu?

Dari keterangan yang tertulis disitu (untunglah, ada terjemahannya dalam bahasa Inggris), kita bisa tahu bahwa mereka adalah korban kekejaman polisi rahasia di jaman pemerintahan sosialis Jerman Timur, yang juga dikenal dengan nama State Security Service, atau "Staatssicherheitsdienst" (susah deh bacanya), atau lebih populer disebut STASI.
Dari tulisan disitu pulalah kita bisa tahu sedikit tentang apa itu STASI dan siapa korbannya. Kira-kira satu bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin (1989), penduduk Berlin Timur yang marah menyerbu kantor pusat STASI. Di sana mereka mengambil apa saja yang bisa diangkut, termasuk tumpukan arsip-arsip yang tidak sempat dimusnahkan oleh para kaki tangan STASI.

Dari arsip-arsip inilah terbongkar kejahatan STASI: dari cara yang digunakan untuk mengorek informasi, metode penyiksaan, identitas para informan, hingga identitas penduduk yang selama ini diincar atau yang sempat hilang, atau meninggal secara tidak wajar.
Untuk mengenang korban-korban itu, rupanya dibuatlah semacam memorial yang berupa deretan foto-foto serta sedikit riwayat hidup mereka.
Di antara para korban itu, ada sebuah foto hitam putih besar: foto seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun. Namanya Aristoteles Püchel. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya?
Pada suatu hari di tahun 1969, ketika Aristoteles berusia 3 tahun, sang ibu, Gabriele Püchel berhasil melarikan diri ke Berlin Barat tanpa berhasil membawa serta si Aristoteles. Di hari yang naas itu, yang kebetulan adalah hari ulang tahun sang ibu ke 25, Gabriele hanya sempat melambaikan tangan pada anaknya, yang ketika itu berada dalam gendongan teman karib ibunya.
Setibanya di Berlin Barat, sang ibu tak pernah melupakan anaknya. Ia terus berupaya mencari jalan agar bisa menarik anaknya ke Berlin Barat. Namun upaya itu merupakan sebuah perjuangan yang luar biasa, karena baru hampir 20 tahun kemudian mereka akhirnya bisa bertemu lagi!
Selama kurun waktu hampir 20 tahun itu, tentu banyak hal yang terjadi. STASI berusaha menyembunyikan identitas Aristoteles dengan "memberinya" identitas yang baru. Ia punya orang tua baru dan nama yang baru, Arne. Mereka juga "mencekokinya" dengan paham-paham sosialis ala Jerman Timur.
Sementara itu, di Berlin Barat, sang ibu yang telah kehilangan jejak si anak, dengan gigih mulai mengetuk pintu dunia internasional. Usaha itu rupanya ada hasilnya, karena pemerintah Jerman Timur mulai mendapat tekanan internasional karena kasus ini.
Akhirnya setahun sebelum runtuhnya Tembok Berlin, Aristoteles, yang kini telah menjadi seorang pemuda dan bernama Arne mendapat 'exit permit' dari pemerintah Jerman Timur untuk menemui ibunya di Berlin Barat.
Bagaimana komentar Gabriele ketika bertemu anaknya pertama kali? Konon, ia pernah meragukan kalau si Arne adalah memang anaknya yang hilang dulu. Lain lagi komentar sang anak: "Kini tidak hanya hari ulang tahun yang bisa kita rayakan bersama, tapi juga hari Natal dan Tahun Baru".
Cerita di atas hanyalah sepotong cerita dari sekian juta kisah lainnya yang menimpa penduduk Berlin pada saat hantu STASI masih menyebarkan virus teror, dan pada saat Tembok Berlin masih berdiri dengan pongahnya...

1 comment:
Bu Vitri, Pak Fadjar,
teror STASI memang kejam.
Tindakan-tindakan STASI itu musuh kemanusiaan. Musuh kita semua.
Tapi (ada tapinya nih), "monumen" yang dibahas ini, adalah "monumen" yang dipersiapkan oleh kaum kanan, yakni kelompok Nazi, Jerman. Kalo perhatikan di foto-foto yang di posting itu, secara saksama, tampak nama Gustav Rust, pengelola "monumen" itu.
Walah, moral apa dong yang dimiliki si Rust? Bicara teror Stalin, tapi simpatisan Nazi, kelompok politik yang punya catatan kejahatan kemanusiaan bikin merinding bulu kuduk.
Salam dari Leipzig,
- S
Post a Comment