
Nah, minggu lalu, kami musti pergi ke Belanda karena ada suatu urusan kantor dan kebetulan kita pergi bareng dengan teman saya itu. Kami pergi naik kereta api (orang Jawa bilang spur) super cepat (kecepatan rata-ratanya 200km perjam). Tujuh jam kemudian, tibalah kami di kota yang namanya Utrecht, di Belanda.
Memang benar apa yang dikatakan teman saya itu. Begitu 'nyampe' di stasiun KA Utrecht, saya lihat banyak sekali tulisan dan kata-kata yang mirip dengan bahasa Indonesia, meskipun artinya tidak selalu sama. Misalnya, kata 'spoor', kalau di Utrecht artinya bukan kereta api, tapi rel kereta api. Sedangkan 'fiets' (artinya sepeda), kalau di Jawa menjadi 'pit' atau 'ngepit' dan 'pit-pitan' kalau maksudnya naik sepeda atau 'nyepeda'.
Berhubung hari sudah siang dan karena perut saya pun sudah memberi tanda kalau minta diisi nasi, maka saya pun mulai tengok kanan kiri mencari apa yang kira-kira bisa diterima oleh perut dan murah harganya. Lalu, saya melihat banyak bule 'Londo' yang lagi ngantri di depan semacam laci-laci berisi makanan. Untuk membeli makanan di laci itu, mereka tinggal memasukkan uang koin 1 Euro disitu, lalu tinggal membuka salah satu laci tersebut. Saya lihat, nama makanan di dalam laci itu sama dengan makanan yang kita kenal, seperti "nasi", "bakmi", "sate", dan "kroket". Tapi di sini, yang dinamakan "nasi" dan "bakmi" jangan dibayangkan sama dengan mie goreng atau nasi bungkus atau pun nasi rames seperti yang biasa dijual di stasiun kereta api di Jawa. Nasi dan bakmi ala 'Londo' berupa sejenis kroket yang diisi nasi putih atau mie goreng. Sedangkan kroket sendiri diisi dengan daging. Rasanya sih - menurut lidah saya yang orang Jawa ini - cukup lumayan. Pedas dan gurih.

Setelah perut kenyang karena si 'nasi' itu tadi, kami pun keluar dari stasiun KA dan jalan kaki menuju hotel tempat kami menginap. Di sepanjang jalan di city centre (downtown), banyak sekali 'Toko-toko'. Karena penasaran dengan apa isi toko itu, kami pun lalu masuk ke dalam salah satu Toko, yang namanya 'Toko Centraal'. Rupanya yang dinamakan 'toko' di sini khusus menjual berbagai bumbu dari Asia, termasuk bumbu dan makanan khas Indonesia. Kebanyakan dari bumbu itu tidak diimpor dari Indonesia, tapi diproduksi sendiri oleh Belanda. Disitu, saya lihat ada wajik, rujak buah, emping pedas, dan 'Indonesisch spekoek'. Hebat juga nih kolonial Belanda. Sambil menyelam, minum air. Sambil menjajah, mereka juga mengangkut makanan kita.

Setelah puas melihat-lihat isi toko itu, kami pun melanjutkan acara jalan kaki kami. Tak jauh dari penginapan kami, teman saya yang orang Belanda itu menunjuk nama-nama jalan yang kami lalui. Sambil ketawa-ketiwi, dia berkomentar, "I don't know whether you will be proud of this or not". Saya pun mulai membaca satu persatu nama-nama jalan disitu: 'Balistraat', 'Lombokstraat', 'Sumatrastraat', 'Borneostraat', serta 'Javastraat'. Namun, memang benar apa yang dikatakan teman saya itu. Saya tidak merasa bangga dan bahkan menjadi 'sebal', ketika di antara jalan-jalan itu, membentang jalan besar dan jalan utama, yang namanya 'J.P. Coen Straat'!


Yah, apa boleh buat. Namanya juga mantan negara penjajah. J.P. Coen, mungkin bagi para 'Londo' itu menjadi seorang tokoh pahlawan nasional, sehingga namanya pun perlu diabadikan menjadi nama jalan. Tapi, bagi kita sendiri, orang Indonesia, 'tokoh' itu akan selalu mengingatkan kita akan riwayat kerja paksa di tanah Jawa!

Sekali ini, gantian teman saya yang cengar-cengir melihat saya bengong...

