Sunday, June 3, 2007

Holland 2: Amsterdam, "Kota Kembang" nan "Genit"




Replika Kapal VOC


Amsterdam, ibukota Belanda, yang sekaligus merupakan kota pelabuhan, terletak tak jauh dari kota Utrecht. Hanya diperlukan waktu kira-kira 30 menit naik KA. Karena Amsterdam adalah kota yang lumayan besar dan memiliki banyak sekali kanal, maka untuk lebih mengenal seluk beluk kota ini, memang sebaiknya kita naik kapal yang banyak berjejer di tepi kanal. Dengan mengeluarkan kocek paling tidak 4 Euro per orang, maka selama satu jam penuh, sang 'Kapten Kapal', dengan sabar dan telaten, akan menerangkan seluk beluk dan sejarah kota Amsterdam kepada para penumpang, dalam empat bahasa sekaligus: Belanda, Jerman, Inggris, dan Perancis.



Di akhir Minggu itu, kebetulan kami dijemput di setasiun KA oleh seorang teman, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengantar dan sekaligus menjadi 'tour guide' gratis bagi kami. Dalam 'pengembaraan' satu hari penuh itu, kami menyempatkan diri mampir ke sebuah pasar kembang, yang terletak persis di tepi sebuah kanal.


Tidak hanya bunga Tulip yang menjadi primadona di pasar kembang ala Londo ini. Banyak juga tanaman khas Belanda lainnya, seperti tanaman Cactus yang tidak hanya berwarna hijau, Dahlia yang berwarna hitam pekat, serta Mawar berbagai warna, dari yang mungil sampai yang 'gede banget'. Di antara deretan bunga-bunga indah nan warni-warni, serta harum semerbak, mata saya tiba-tiba tertuju pada satu jenis tanaman "terlarang", yang namanya canabis atau lebih dikenal sebagai daun ganja! Di negeri ini, entah kenapa, ganja memang dijual secara bebas.


Siang itu, kios-kios bunga di sepanjang tepi kanal tampak ramai dikunjungi para turis dari manca negara. Mereka tidak saja banyak tanya ini itu pada sang penjual, tapi juga memborong berbagai biji-bijian atau bibit bunga yang sudah dikemas secara cantik dan menarik dalam berbagai kantong kertas atau di dalam souvenir sepatu 'terompah' kayu yang mungil. Para pedagang bunga pun, dengan ramah, tidak segan-segan melayani pelanggan dalam bahasa Inggris (paling tidak kalau dibandingkan dengan para pedagang di Jerman yang pelit senyum dan ogah-ogahan kalau diajak ngomong bahasa Inggris).

Tepat menjelang tengah hari, kami meninggalkan pasar kembang itu dan bergegas mengikuti langkah sang 'tour guide' yang beranjak menuju ke "pasar kembang" yang lain, yang lebih 'seru' dan heboh. Setelah berjalan kaki kira-kira 20 menit menyusuri China Town dan lorong-lorong sempit yang menawarkan berbagai "coffeeshop" (istilah di Belanda untuk 'ngopi' sambil 'ngeganja'), kami akhirnya tiba di sebuah distrik yang tak pernah sepi: baik dari turis-turis yang 'curious', tapi juga selalu ramai dikunjungi para 'hidung belang' yang mencari selembar mimpi indah, tak peduli siang ataupun malam hari!



Gereja tua di tengah Red Light District


Di sudut kota yang namanya "Red Light District" (RLD) inilah - yang lagi-lagi terletak di sepanjang tepi sebuah kanal - tampak di kanan dan kiri jalan, berjejer klub-klub malam, toko-toko 'saru', museum erotik, serta bangunan-bangunan yang disekat-sekat menjadi beberapa 'bilik-bilik' kecil yang berjendela dan berpintu kaca. Dari balik keremangan bilik terlihat "kembang - kembang" geulis, berwajah bule dan berhidung 'bangir', dalam balutan kostum ala Victoria Secret, sedang menanti sang kumbang yang ber 'hidung belang' datang menghampiri.



Sementara itu, para peminat atau pelanggan atau apapun namanya - dan juga para turis yang penasaran - dengan leluasa bisa ber "window shopping" atau melongok ke jendela-jendela kaca itu, sebelum memutuskan untuk bertransaksi lebih lanjut.


Siang itu rupanya sang matahari sedang 'lucu-lucunya' memancarkan sinarnya dan membuat 'gerah' para primadona yang sejak tadi berada dalam bilik-bilik mereka. Beberapa dari mereka membuka pintu kaca lebar-lebar, membiarkan angin berhembus masuk. Bahkan, banyak juga yang lebih memilih untuk keluar dari bilik dan mejeng di pinggir jalan. Dengan rokok di jari, "kembang-kembang" Londo itu tampak asyik 'ngerumpi', tanpa memperdulikan sekitar. Tapi, jangan coba-coba berani memotret mereka secara terang-terangan, bisa-bisa selop hak tinggi yang mereka kenakan akan melayang ke arah kita!

Di salah satu lorong di distrik ini terdapat juga bilik-bilik milik "Kembang-kembang AC/DC" alias 'waya-waya' alias waria, yang kali ini lebih didominasi oleh tampang-tampang Asia. Sekilas, memang mereka tak kalah ayu dengan "kembang-kembang asli", apalagi kostum yang mereka kenakan pun tak kalah 'heboh' dengan mereka yang sedang mejeng di pinggir kanal tadi. Untunglah, di siang bolong itu, mereka tidak ikut-ikutan cari angin dan mejeng di luar. Mereka tetap setia berada di dalam bilik-bilik mereka. Dengan gincu yang tebal dan pakaian penutup tubuh ala kadarnya, mereka terus mengumbar senyum genitnya sepanjang hari kepada siapapun yang lewat...



XXX Bukan simbol RLD, tapi adalah lambang kota Amsterdam yang memuat tiga pesan moral: Compassion, Resolution, Heroism


No comments: