Monday, January 21, 2008

Berlin 3: Checkpoint Charlie Yang Malang


Berlin yang kini menjadi ibu kota Jerman, adalah sebuah kota yang unik, yang tidak ada duanya di dunia ini. Dulu, di masa Perang Dingin, ketika dua kekuatan dunia saling bersaing, ketika dua ego, Barat dan Timur, Amerika dan Soviet saling tak mau kalah, Berlin lah yang paling menjadi bulan-bulanannya. Ia menjadi arena ajang tarik menarik di antara keduanya. Suatu 'Perang Dingin' yang harus dibayar mahal, yang mengharuskan Berlin dipisahkan oleh selembar Tembok yang angkuh dan dingin.

Kala itu, Berlin Barat dan Berlin Timur, menjadi dua sisi mata uang yang tak akan pernah saling bertemu. Kehidupan di kedua tempat itu sangatlah berlawanan. Bagian Barat yang 'kapitalis', di mana kebebasan berpendapat dan berbicara menjadi hak utama masyarakatnya, sementara di bagian Timur, yang menganut paham 'sosialis' , hak manusia seakan dilupakan begitu saja. Seorang penduduk di Timur, misalnya, yang kedapatan menyaksikan siaran TV Barat, sudah pasti akan mendapat hukuman penjara. Apalagi bagi mereka yang ingin 'terbang' ke sisi mata uang lain di balik Tembok. Batas hidup dan mati seseorang di sana saat itu sangatlah tipis.


Di antara Tembok Berlin yang bisu dan dingin, di antara dua dunia itu, terdapat sepotong 'celah pintu' yang bisa 'menghubungkan' ke dua sisi mata uang itu. Nama 'pintu' itu ialah Chekpoint Charlie. 'Pintu' ini sebenarnya adalah pos keamanan yang didirikan oleh pihak Amerika untuk kepentingan strategis militer mereka.


Checkpoint Charlie hanyalah satu dari tiga pos yang dibuat oleh Amerika saat itu. Pos yang lain, yang dibangun sebelumnya adalah Checkpoint Alpha dan Checkpoint Bravo.

Checkpoint Charlie di Friedrichstrasse merupakan pos keamanan yang paling terkenal. Di sinilah setiap pejabat, militer, turis, atau siapa saja yang berkepentingan untuk masuk ke Timur maupun sebaliknya akan diperiksa terlebih dahulu untuk mendapatkan 'clearance' dari kedua belah pihak. Di sini pulalah banyak terjadi kisah-kisah yang mengenaskan, ketika warga Timur nekat menerobos pos ini untuk lari ke Berlin Barat dan nasibnya berakhir di ujung peluru tentara Soviet.

Masa kini, setelah Amerika dan Soviet saling 'berbaikan', setelah tak ada lagi yang namanya Perang Dingin, dan setelah Tembok Berlin tidak lagi 'sangar', karena hanya menjadi potongan-potongan kecil souvenir bagi para turis, dan setelah Berlin menjadi ibu kota, Checkpoint Charlie hanyalah menjadi obyek turisme semata.


Di siang yang lumayan terik itu - dengan membayar 1 Euro per orang - kita bisa 'nampang' dengan para 'tentara' penjaga pos, baik dari 'pihak' Soviet, maupun dari 'pihak' Amerika. Entah dari jam berapa mereka berdiri dengan tegapnya disana. Meskipun tampang dan 'prejengan', serta seragam yang mereka kenakan layaknya seperti tentara beneran, tapi mereka pun sangat, sangat komersial. Mereka tidak akan bersedia diajak berfoto, sebelum kita menyodorkan uang koin 1 Euro!


Saya pun merasa sedikit kecewa. Sepuluh tahun yang lalu, ketika kami mampir kesini, masih terdapat lebih kurang 10 meter Tembok Berlin yang penuh dengan coretan-coretan grafiti. Kini, tak ada secuil pun Tembok yang bersejarah itu. Sebagai gantinya, hanya ada satu keterangan pendek di tempat bekas berdirinya Tembok tersebut. Hanya deretan papan kayu di sepanjang jalan, yang berisikan foto-foto hitam putih dan museum kecil di sudut jalan yang akan membawa kita ke masa lalu. Selebihnya? Seperti juga tempat-tempat wisata lain di dunia ini, tempat itu dipenuhi dengan toko-toko aneka souvenir, cafe, serta tak ketinggalan deretan perusahaan penyewaan mobil terkenal, seperti Avis, Hertz dan Enterprise yang seakan berlomba merebut pelanggan.