Sebagai salah satu negara yang baru saja menjadi anggota Schengen, Ceko memang layak dikunjungi. Selain negerinya yang terkenal cantik, jaraknyapun tidak jauh dari Jerman. Apalagi, ibu kota Ceko, Praha terletak tak jauh dari Dresden, hanya dua jam perjalanan dengan kereta api.
Kota Dresden dan Praha, walaupun bertetangga, boleh dibilang memiliki 'nasib' yang berbeda. Di masa PD II, hampir seluruh bangunan di kota Dresden hancur, sebaliknya Praha - yang langsung menyerah pada Hitler - hanya sedikit mengalami kerusakan. Kini, dengan bangunan asli dari Abad Pertengahan yang dimiliki Praha, maka Praha menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Unesco.

Kereta ala Agatha Christie's "Murder on Orient Express"
Sekitar pukul lima sore di akhir minggu itu, kami tiba di stasiun kereta api yang namanya Holesovice di Praha. Suasana hiruk pikuk di stasiun kereta itu benar-benar mengingatkan saya akan stasiun Gambir di Jakarta. Seperti layaknya kota turis, begitu kami turun dari kereta, beberapa orang langsung menghampiri, menawarkan bermacam brosur hotel, pension (losmen), dan apartemen. Mereka saling berebut mempromosikan tempat bermalam, lengkap dengan 'money changer' dan taxi.
Tempat pertama di Praha yang kami kunjungi malam itu adalah Cafe Slavia Kavkana. Cafe ini, selain terkenal dengan goulashnya (makanan khas Eropa Timur yang mirip sekali dengan semur), juga terkenal sebagai tempat bersejarah. Berdiri sekitar 100 tahun yang lalu, restoran yang terletak di pusat kota, di Praha 1 (Praha terdiri dari 13 zone) ini dulu pernah menjadi tempat berkumpulnya para intelektual seperti Franz Kafka. Sambil minum kopi, para penulis itu berbincang dan berdiskusi, sehingga tidak jarang dari obrolan itu lahir karya-karya mereka yang luar biasa.

Di depan Slavia Kavkana dengan Bapak dan Ibu Dubes RI di Ceko
Di depan Slavia Kavkana terdapat Gedung bermotif Baroque yang merupakan Gedung Teater Nasional. Antrian panjang turis yang akan menonton pertunjukan Czech Opera memenuhi jalan di depan gedung itu.

Ibarat negeri dongeng, malam itu kota Praha bermandikan cahaya lampu. Sungai Vlatava seperti emas berkilauan tertimpa sinar lampu sebuah Castle yang megah di atas bukit di tengah kota. Istana itu sedemikian besarnya sehingga seperti jantung kota yang menerangi dan 'mengawasi' seluruh nadi kehidupan dibawahnya: rumah-rumah, sungai Vlatava, Mala Strana, Stare Mesto, serta Charles Bridge. Kami memutuskan untuk kembali ke Castle itu keesokan harinya...
Prague Castle atau Hradcany Castle, demikian nama Castle itu. Istana ini memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan politik dan agama rakyat Ceko. Sejak abad IX hingga kini, Istana itu terus berfungsi. Pada Abad Pertengahan, ia menjadi kediaman resmi para Raja. Ketika Hitler menaklukkan Ceko, Istana ini beralih fungsi menjadi markas militer para petinggi Nazi. Kini, saat Ceko telah menjadi Republik sendiri, Istana ini pun masih menjalankan fungsinya sebagai kantor Kepresidenan. Selain itu, gereja yang terletak di dalam Istana, St Vitus's Cathedral, terus terbuka untuk melayani kehidupan agama rakyat Ceko.
Meskipun setiap harinya Presiden berkantor di salah satu sudut dalam kompleks Hradcany Castle, namun Istana ini tetap terbuka untuk umum, termasuk bagi siapa saja yang ingin menyaksikan pergantian penjaga gerbang, yang dilakukan setiap jam. Tak heran bila Castle ini tak pernah sepi dari kunjungan turis.
Satu hari rasanya tidak cukup untuk mengelilingi seluruh kompleks Istana yang sangat luas itu. Karena terbatasnya waktu dan juga ditambah dengan udara yang sangat dingin (dinginnya mengingatkan saya akan Wisconsin!), kita hanya sempat melihat-lihat Old Royal Palace, St Vitus's Cathedral, dan Powder Tower. Dingin yang menggigit membuat kita urung melihat-lihat Royal Garden.

Kami mengikuti langkah para turis yang menuruni anak tangga yang menuju ke Mala Strana di kaki bukit. Tanpa disengaja, kami menurui anak tangga yang namanya Old Castle Stairs, yang mengingatkan saya akan dunia dongeng Cinderella. Jalanan batu bata berwarna kuning yang menurun dan berkelok, dengan pemandangan taman dan sungai Vlatava di bawahnya, dengan warna warni kristal Bohemia dan Swarovski yang dijual di sepanjang jalan. Demikian pula dengan deretan museum dan teater boneka, dari Pinokio hingga Barbie. Marionette dan matruskha (boneka kayu khas Rusia) seakan tidak ada habisnya mengundang decak kagum. Berapa harga tiket masuk museum dan juga harga souvenir-souvenir itu? Jangan tanya deh, sebagai negara turis yang sebentar lagi akan memberlakukan nilai mata uang Euro, kami harus puas hanya dengan 'cuci mata' atau window shopping saja!



Kami terus berjalan di tengah arus turis, hingga tiba di sebuah jembatan yang juga bermotif Gothic. Namanya Charles Bridge. Jembatan inilah yang menghubungkan Mala Strana dengan Stare Mesto.
Kota Dresden dan Praha, walaupun bertetangga, boleh dibilang memiliki 'nasib' yang berbeda. Di masa PD II, hampir seluruh bangunan di kota Dresden hancur, sebaliknya Praha - yang langsung menyerah pada Hitler - hanya sedikit mengalami kerusakan. Kini, dengan bangunan asli dari Abad Pertengahan yang dimiliki Praha, maka Praha menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Unesco.

Sekitar pukul lima sore di akhir minggu itu, kami tiba di stasiun kereta api yang namanya Holesovice di Praha. Suasana hiruk pikuk di stasiun kereta itu benar-benar mengingatkan saya akan stasiun Gambir di Jakarta. Seperti layaknya kota turis, begitu kami turun dari kereta, beberapa orang langsung menghampiri, menawarkan bermacam brosur hotel, pension (losmen), dan apartemen. Mereka saling berebut mempromosikan tempat bermalam, lengkap dengan 'money changer' dan taxi.
Tempat pertama di Praha yang kami kunjungi malam itu adalah Cafe Slavia Kavkana. Cafe ini, selain terkenal dengan goulashnya (makanan khas Eropa Timur yang mirip sekali dengan semur), juga terkenal sebagai tempat bersejarah. Berdiri sekitar 100 tahun yang lalu, restoran yang terletak di pusat kota, di Praha 1 (Praha terdiri dari 13 zone) ini dulu pernah menjadi tempat berkumpulnya para intelektual seperti Franz Kafka. Sambil minum kopi, para penulis itu berbincang dan berdiskusi, sehingga tidak jarang dari obrolan itu lahir karya-karya mereka yang luar biasa.

Di depan Slavia Kavkana terdapat Gedung bermotif Baroque yang merupakan Gedung Teater Nasional. Antrian panjang turis yang akan menonton pertunjukan Czech Opera memenuhi jalan di depan gedung itu.
Ibarat negeri dongeng, malam itu kota Praha bermandikan cahaya lampu. Sungai Vlatava seperti emas berkilauan tertimpa sinar lampu sebuah Castle yang megah di atas bukit di tengah kota. Istana itu sedemikian besarnya sehingga seperti jantung kota yang menerangi dan 'mengawasi' seluruh nadi kehidupan dibawahnya: rumah-rumah, sungai Vlatava, Mala Strana, Stare Mesto, serta Charles Bridge. Kami memutuskan untuk kembali ke Castle itu keesokan harinya...
Meskipun setiap harinya Presiden berkantor di salah satu sudut dalam kompleks Hradcany Castle, namun Istana ini tetap terbuka untuk umum, termasuk bagi siapa saja yang ingin menyaksikan pergantian penjaga gerbang, yang dilakukan setiap jam. Tak heran bila Castle ini tak pernah sepi dari kunjungan turis.
Satu hari rasanya tidak cukup untuk mengelilingi seluruh kompleks Istana yang sangat luas itu. Karena terbatasnya waktu dan juga ditambah dengan udara yang sangat dingin (dinginnya mengingatkan saya akan Wisconsin!), kita hanya sempat melihat-lihat Old Royal Palace, St Vitus's Cathedral, dan Powder Tower. Dingin yang menggigit membuat kita urung melihat-lihat Royal Garden.

Kami mengikuti langkah para turis yang menuruni anak tangga yang menuju ke Mala Strana di kaki bukit. Tanpa disengaja, kami menurui anak tangga yang namanya Old Castle Stairs, yang mengingatkan saya akan dunia dongeng Cinderella. Jalanan batu bata berwarna kuning yang menurun dan berkelok, dengan pemandangan taman dan sungai Vlatava di bawahnya, dengan warna warni kristal Bohemia dan Swarovski yang dijual di sepanjang jalan. Demikian pula dengan deretan museum dan teater boneka, dari Pinokio hingga Barbie. Marionette dan matruskha (boneka kayu khas Rusia) seakan tidak ada habisnya mengundang decak kagum. Berapa harga tiket masuk museum dan juga harga souvenir-souvenir itu? Jangan tanya deh, sebagai negara turis yang sebentar lagi akan memberlakukan nilai mata uang Euro, kami harus puas hanya dengan 'cuci mata' atau window shopping saja!

Kami terus berjalan di tengah arus turis, hingga tiba di sebuah jembatan yang juga bermotif Gothic. Namanya Charles Bridge. Jembatan inilah yang menghubungkan Mala Strana dengan Stare Mesto.
