Sunday, February 24, 2008

Praha: Negeri Seribu Dongeng dan Hradcany Castle


Sebagai salah satu negara yang baru saja menjadi anggota Schengen, Ceko memang layak dikunjungi. Selain negerinya yang terkenal cantik, jaraknyapun tidak jauh dari Jerman. Apalagi, ibu kota Ceko, Praha terletak tak jauh dari Dresden, hanya dua jam perjalanan dengan kereta api.

Kota Dresden dan Praha, walaupun bertetangga, boleh dibilang memiliki 'nasib' yang berbeda. Di masa PD II, hampir seluruh bangunan di kota Dresden hancur, sebaliknya Praha - yang langsung menyerah pada Hitler - hanya sedikit mengalami kerusakan. Kini, dengan bangunan asli dari Abad Pertengahan yang dimiliki Praha, maka Praha menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Unesco.


Kereta ala Agatha Christie's "Murder on Orient Express"

Sekitar pukul lima sore di akhir minggu itu, kami tiba di stasiun kereta api yang namanya Holesovice di Praha. Suasana hiruk pikuk di stasiun kereta itu benar-benar mengingatkan saya akan stasiun Gambir di Jakarta. Seperti layaknya kota turis, begitu kami turun dari kereta, beberapa orang langsung menghampiri, menawarkan bermacam brosur hotel, pension (losmen), dan apartemen. Mereka saling berebut mempromosikan tempat bermalam, lengkap dengan 'money changer' dan taxi.

Tempat pertama di Praha yang kami kunjungi malam itu adalah Cafe Slavia Kavkana. Cafe ini, selain terkenal dengan goulashnya (makanan khas Eropa Timur yang mirip sekali dengan semur), juga terkenal sebagai tempat bersejarah. Berdiri sekitar 100 tahun yang lalu, restoran yang terletak di pusat kota, di Praha 1 (Praha terdiri dari 13 zone) ini dulu pernah menjadi tempat berkumpulnya para intelektual seperti Franz Kafka. Sambil minum kopi, para penulis itu berbincang dan berdiskusi, sehingga tidak jarang dari obrolan itu lahir karya-karya mereka yang luar biasa.


Di depan Slavia Kavkana dengan Bapak dan Ibu Dubes RI di Ceko

Di depan Slavia Kavkana terdapat Gedung bermotif Baroque yang merupakan Gedung Teater Nasional. Antrian panjang turis yang akan menonton pertunjukan Czech Opera memenuhi jalan di depan gedung itu.


Ibarat negeri dongeng, malam itu kota Praha bermandikan cahaya lampu. Sungai Vlatava seperti emas berkilauan tertimpa sinar lampu sebuah Castle yang megah di atas bukit di tengah kota. Istana itu sedemikian besarnya sehingga seperti jantung kota yang menerangi dan 'mengawasi' seluruh nadi kehidupan dibawahnya: rumah-rumah, sungai Vlatava, Mala Strana, Stare Mesto, serta Charles Bridge. Kami memutuskan untuk kembali ke Castle itu keesokan harinya...

Prague Castle atau Hradcany Castle, demikian nama Castle itu. Istana ini memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan politik dan agama rakyat Ceko. Sejak abad IX hingga kini, Istana itu terus berfungsi. Pada Abad Pertengahan, ia menjadi kediaman resmi para Raja. Ketika Hitler menaklukkan Ceko, Istana ini beralih fungsi menjadi markas militer para petinggi Nazi. Kini, saat Ceko telah menjadi Republik sendiri, Istana ini pun masih menjalankan fungsinya sebagai kantor Kepresidenan. Selain itu, gereja yang terletak di dalam Istana, St Vitus's Cathedral, terus terbuka untuk melayani kehidupan agama rakyat Ceko.

Meskipun setiap harinya Presiden berkantor di salah satu sudut dalam kompleks Hradcany Castle, namun Istana ini tetap terbuka untuk umum, termasuk bagi siapa saja yang ingin menyaksikan pergantian penjaga gerbang, yang dilakukan setiap jam. Tak heran bila Castle ini tak pernah sepi dari kunjungan turis.

Satu hari rasanya tidak cukup untuk mengelilingi seluruh kompleks Istana yang sangat luas itu. Karena terbatasnya waktu dan juga ditambah dengan udara yang sangat dingin (dinginnya mengingatkan saya akan Wisconsin!), kita hanya sempat melihat-lihat Old Royal Palace, St Vitus's Cathedral, dan Powder Tower. Dingin yang menggigit membuat kita urung melihat-lihat Royal Garden.


Kami mengikuti langkah para turis yang menuruni anak tangga yang menuju ke Mala Strana di kaki bukit. Tanpa disengaja, kami menurui anak tangga yang namanya Old Castle Stairs, yang mengingatkan saya akan dunia dongeng Cinderella. Jalanan batu bata berwarna kuning yang menurun dan berkelok, dengan pemandangan taman dan sungai Vlatava di bawahnya, dengan warna warni kristal Bohemia dan Swarovski yang dijual di sepanjang jalan. Demikian pula dengan deretan museum dan teater boneka, dari Pinokio hingga Barbie. Marionette dan matruskha (boneka kayu khas Rusia) seakan tidak ada habisnya mengundang decak kagum. Berapa harga tiket masuk museum dan juga harga souvenir-souvenir itu? Jangan tanya deh, sebagai negara turis yang sebentar lagi akan memberlakukan nilai mata uang Euro, kami harus puas hanya dengan 'cuci mata' atau window shopping saja!





Kami terus berjalan di tengah arus turis, hingga tiba di sebuah jembatan yang juga bermotif Gothic. Namanya Charles Bridge. Jembatan inilah yang menghubungkan Mala Strana dengan Stare Mesto.

Sunday, February 3, 2008

Berlin 4: Bunker Hitler


Selain terkenal dengan Tembok Berlinnya, Berlin juga dikenal sebagai kota dimana Hitler pada tahun 1945 mengakhiri hidupnya sendiri di dalam bunker tempat persembunyiannya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Berlin sepuluh tahun yang lalu, saya selalu bertanya - pada teman-teman yang memang tinggal di kota itu - dimana sih sebenarnya lokasi bunker Hitler itu?


Saat itu lebih dari satu jawaban yang saya dapat. Ada yang bilang bahwa sang führer tidak pernah mati bunuh diri, tapi mati sebagai pahlawan di medan perang, ada lagi yang bilang bahwa menjelang akhir hidupnya, terbukti kalau dia tidak pernah mampir ke Berlin. Beberapa teman bilang kalau bunker sang führer terletak di bawah Gedung Parlemen Jerman atau Reichstag. Ada juga yang yakin kalau di atas lahan bunker itu kini sudah berdiri sebuah restoran Cina. Wah, mana yang benar ya? Tapi umumnya, jawaban yang saya terima adalah, "ich weiß nicht!", yang artinya kira-kira barangkali, "emangnya gua pikirin!".

Memang bisa dimaklumi kalau jawaban yang saya terima beragam. Saat itu pemerintah Jerman belum terlalu terbuka seperti sekarang. Konon, pemerintah Jerman khawatir kalau lokasi itu digunakan sebagai pusat pemujaan bagi kaum simpatisan sang Herr H.


Kini, satu dekade kemudian, ketika saya mendapat kesempatan ke kota itu lagi, dan ketika pemerintah Jerman sudah mulai membuka diri, saya mulai mencari informasi lagi tentang letak bunker tua itu. Kebetulan, beberapa teman juga mempunyai minat yang sama dengan saya. Maka, dengan berbekal peta dan informasi mutakhir dari seorang teman - yang justru bukan penduduk Berlin - kami mulai menyusuri jalan, melewati Friedrichstrasse dan tiba di Willemstrasse. Kata teman saya itu, bunker itu terletak di Willemstraße dan sekarang sudah terkubur rapat. Bahkan, di atasnya sudah dijadikan lahan parkir mobil.


Rupanya, tidaklah sulit mencari lokasi bekas bunker misterius itu. Memasuki Willemstraße, persis di ujung jalan, di sebuah pertigaan jalan, kita disambut oleh sebuah papan informasi tentang keberadaan bunker sang Herr Hitler; sebuah informasi yang cukup detil, lengkap dengan denah bunker. Menurut catatan disitu - yang tentunya versi pemerintah Jerman - bunker itu terletak di dalam kompleks gedung Old Chancellory (Gedung Parlemen Lama), yang saat ini telah runtuh dan digantikan oleh sebuah kompleks apartemen yang luas.




Gedung apartemen itu sendiri terletak kira-kira 100 meter dari papan tersebut, berdekatan dengan lahan parkir mobil dan taman tempat anak-anak bermain. Agak jauh ke belakang apartemen, kita akan menemukan sebuah restoran Vietnam, cafe, serta toko souvenir. Di sekitar area tersebut, tampak pula beberapa papan informasi tentang lokasi bunker dan sejarahnya.

Menurut catatan disitu, dulu terdapat dua buah bunker, yaitu Vor Bunker (dibangun tahun 1936) dan Führer Bunker yang dibangun belakangan pada tahun 1943. Bunker yang terakhir ini dibuat lebih dalam dan lebih canggih dari bunker pertama. Letaknya tidak di bawah Old Chancelllory seperti bunker yang pertama, melainkan di bawah halaman gedung itu. Kedua bunker dihubungkan dengan anak tangga.Nah, di bunker yang terakhir inilah, konon, sang führer menghabiskan sisa hidupnya. Berdasarkani informasi yang lumayan detil itulah, kita bisa mereka-reka dimana letak bunker, pintu masuk ke dalamnya, serta dimana kira-kira sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun dibakar.



Lokasi Pintu Masuk Bunker?
Konon sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun ditemukan di sini



Sayang sekali, tidak ada sedikitpun sisa bunker atau gedung Old Chancellory. Akses ke dalam bunker itu pun sudah terkubur rapat. Kami dan para pengunjung lainnya hanya mengandalkan papan-papan informasi versi pemerintah Jerman dan para tour guide saja.

Tanpa papan-papan informasi itu, siapa yang akan menyangka kalau jauh di bawah lahan kompleks apartemen tersebut terdapat tempat persembunyian orang nomor satu di Jerman saat itu? Terdapat juga peristiwa tragis yang telah merubah sejarah dunia? Peristiwa yang tidak saja menyeret sang führer ke alam kubur, tapi juga membawa serta para pengikutnya yang setia serta anak-anak kecil yang tidak berdosa?