Selain terkenal dengan Tembok Berlinnya, Berlin juga dikenal sebagai kota dimana Hitler pada tahun 1945 mengakhiri hidupnya sendiri di dalam bunker tempat persembunyiannya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Berlin sepuluh tahun yang lalu, saya selalu bertanya - pada teman-teman yang memang tinggal di kota itu - dimana sih sebenarnya lokasi bunker Hitler itu?
Saat itu lebih dari satu jawaban yang saya dapat. Ada yang bilang bahwa sang führer tidak pernah mati bunuh diri, tapi mati sebagai pahlawan di medan perang, ada lagi yang bilang bahwa menjelang akhir hidupnya, terbukti kalau dia tidak pernah mampir ke Berlin. Beberapa teman bilang kalau bunker sang führer terletak di bawah Gedung Parlemen Jerman atau Reichstag. Ada juga yang yakin kalau di atas lahan bunker itu kini sudah berdiri sebuah restoran Cina. Wah, mana yang benar ya? Tapi umumnya, jawaban yang saya terima adalah, "ich weiß nicht!", yang artinya kira-kira barangkali, "emangnya gua pikirin!".
Memang bisa dimaklumi kalau jawaban yang saya terima beragam. Saat itu pemerintah Jerman belum terlalu terbuka seperti sekarang. Konon, pemerintah Jerman khawatir kalau lokasi itu digunakan sebagai pusat pemujaan bagi kaum simpatisan sang Herr H.
Kini, satu dekade kemudian, ketika saya mendapat kesempatan ke kota itu lagi, dan ketika pemerintah Jerman sudah mulai membuka diri, saya mulai mencari informasi lagi tentang letak bunker tua itu. Kebetulan, beberapa teman juga mempunyai minat yang sama dengan saya. Maka, dengan berbekal peta dan informasi mutakhir dari seorang teman - yang justru bukan penduduk Berlin - kami mulai menyusuri jalan, melewati Friedrichstrasse dan tiba di Willemstrasse. Kata teman saya itu, bunker itu terletak di Willemstraße dan sekarang sudah terkubur rapat. Bahkan, di atasnya sudah dijadikan lahan parkir mobil.
Rupanya, tidaklah sulit mencari lokasi bekas bunker misterius itu. Memasuki Willemstraße, persis di ujung jalan, di sebuah pertigaan jalan, kita disambut oleh sebuah papan informasi tentang keberadaan bunker sang Herr Hitler; sebuah informasi yang cukup detil, lengkap dengan denah bunker. Menurut catatan disitu - yang tentunya versi pemerintah Jerman - bunker itu terletak di dalam kompleks gedung Old Chancellory (Gedung Parlemen Lama), yang saat ini telah runtuh dan digantikan oleh sebuah kompleks apartemen yang luas.
Gedung apartemen itu sendiri terletak kira-kira 100 meter dari papan tersebut, berdekatan dengan lahan parkir mobil dan taman tempat anak-anak bermain. Agak jauh ke belakang apartemen, kita akan menemukan sebuah restoran Vietnam, cafe, serta toko souvenir. Di sekitar area tersebut, tampak pula beberapa papan informasi tentang lokasi bunker dan sejarahnya.
Menurut catatan disitu, dulu terdapat dua buah bunker, yaitu Vor Bunker (dibangun tahun 1936) dan Führer Bunker yang dibangun belakangan pada tahun 1943. Bunker yang terakhir ini dibuat lebih dalam dan lebih canggih dari bunker pertama. Letaknya tidak di bawah Old Chancelllory seperti bunker yang pertama, melainkan di bawah halaman gedung itu. Kedua bunker dihubungkan dengan anak tangga.Nah, di bunker yang terakhir inilah, konon, sang führer menghabiskan sisa hidupnya. Berdasarkani informasi yang lumayan detil itulah, kita bisa mereka-reka dimana letak bunker, pintu masuk ke dalamnya, serta dimana kira-kira sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun dibakar.
Lokasi Pintu Masuk Bunker?
Konon sisa-sisa tubuh Herr H dan Eva Braun ditemukan di sini
Sayang sekali, tidak ada sedikitpun sisa bunker atau gedung Old Chancellory. Akses ke dalam bunker itu pun sudah terkubur rapat. Kami dan para pengunjung lainnya hanya mengandalkan papan-papan informasi versi pemerintah Jerman dan para tour guide saja.
Tanpa papan-papan informasi itu, siapa yang akan menyangka kalau jauh di bawah lahan kompleks apartemen tersebut terdapat tempat persembunyian orang nomor satu di Jerman saat itu? Terdapat juga peristiwa tragis yang telah merubah sejarah dunia? Peristiwa yang tidak saja menyeret sang führer ke alam kubur, tapi juga membawa serta para pengikutnya yang setia serta anak-anak kecil yang tidak berdosa?

No comments:
Post a Comment